Tokyo Tower yang Legendaris

Pengetahuan saya tentang Tokyo Tower berawal dari Doraemon. Iya, betul Doraemon yang tokoh kartun kucing robot itu. Yang temennya Nobita, Shizuka, Giant, & Suneo. Tahunya dari mana? Dari opening serial kartun itu. Kalo ga salah, opening versi tahun 1990an awal (yang tayang di RCTI), ada salah satu scene-nya yang memperlihatkan Tokyo Tower. Kalo ga salah, pas lirik “Aku ingin terbang di angkasa.. Hai, baling-baling bambu!”

Berpendaran @ #Tokyo Tower. #nofilter

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Apr 12, 2014 at 7:15pm PDT

Sejak saat itu, semacam terpatri di benak saya suatu saat harus tahu lebih lanjut mengenai bangunan tersebut. Untungnya, setelah lebih dewasa dan dengan bantuan internet, tahu bahwa bangunan itu bernama Tokyo Tower. Bangunan yang mirip Eiffel Tower di Paris (lebih tinggi Tokyo Tower lho), dan juga salah satu landmark dari kota Tokyo, Jepang.

Singkat cerita, sekitar akhir tahun 2013 sampai dengan awal tahun 2014 lalu, saya berkesempatan untuk melakukan perjalanan terkait pekerjaan (di saat itu) ke sekitar Korea dan Jepang. Dan pada akhirnya, medio Januari-Februari 2014 saya pun berkesempatan untuk menuju kota Tokyo, Jepang. Otomatis, salah satu yang hendak saya kunjungi di kala senggang adalah Tokyo Tower. Selain karena menjadi bagian masa kecil (karena Doraemon), juga menjadi salah satu checklist saya untuk mengunjungi landmark berupa bangunan tinggi atau fasilitas yang bisa membuat saya melihat kota dari ketinggian.

Tokyo Tower yang terletak di distrik Minato, bisa dicapai dengan subway. Saya lupa persisnya subway jalur yang mana, tapi ada 2 stasiun dari 2 jalur yang berbeda yang bisa sampai ke sana. Selain itu, Tokyo Tower juga bisa dicapai dengan menggunakan Hop On-Hop Off Bus — yang tiketnya berlaku 1×24 jam.

Kesan pertama ketika sampai, jelas adalah takjub. Betapa manusia dengan akalnya bisa membuat sebuah bangunan yang menjulang tinggi ke angkasa dan bisa tahan lama. Belum lagi ternyata bangunan tersebut bisa dinaiki — baik dengan lift maupun tangga biasa. Sekilas saya teringat Monas di Jakarta. Sebagai landmark, bangunan yang memiliki tinggi total 333 meter ini terbagi menjadi 3 bagian: 

  • Area komersil Ini mencakup pintu gerbang, loket tiket, tempat makan/resto, sampai dengan souvenir shop. Tidak perlu tiket masuk khusus ke area komersil ini.
  • Area Pengamatan Bawah Merupakan area untuk mengamati sekitar yang terletak di ketinggian 150 meter. Ini memerlukan tiket pertama.
  • Area Pengamatan Atas Merupakan area untuk mengamati sekitar yang terletak di ketinggian 250 meter. Ini memerlukan tiket pertama dan kedua. Total harus membeli 2 tiket.

Selain membeli tiket, juga bisa dengan menaiki tangga untuk ke puncaknya. Tapi sejauh yang saya tahu, menaiki tangga itu hanya untuk acara-acara khusus saja. Seperti misalnya olahraga yang diselenggarakan secara resmi dan bukannya pilihan berhemat.

Ketika saya mengunjungi Tokyo Tower, waktu yang saya pilih adalah mendekati sunset atau matahari terbenam. Sengaja, untuk memotret dan melihat keindahan kota Tokyo diterpa sinar senja. Seperti yang pernah saya lakukan di Sydney Eye Tower lalu. Meski memang, tantangannya besar karena sedang musim dingin. Sehingga waktu sunset lebih cepat daripada biasanya. Selain itu juga jalan kaki dari stasiun subway ke Tokyo Tower cukup jauh, jadi harus melawan rasa dingin meski sudah mengenakan jaket tebal & juga pakaian hangat.

waiting for sunset, #tokyo tower. #silhouette #fromthedistance

A photo posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Jan 29, 2014 at 12:32am PST

Lalu apakah hanya pemandangan sekitar saja yang bisa dilihat? Tentu tidak. Di observatorium (area pengamatan) itu ada menara pandang ke arah bawah, panggung kecil untuk atraksi musisi lokal, sampai dengan resto kecil dan juga toko souvenir. Iya, yang bukan di area komersil.

Enjoyable band performance at club 333, observatory deck of #tokyo tower.

A video posted by Billy Koesoemadinata (@billykoesoemadinata) on Jan 29, 2014 at 3:01am PST

Sehubungan kunjungan saya sudah lewat 2 tahun lebih, maka untuk informasi lebih lanjut bisa dicari di link yang sudah saya cantumkan di beberapa backlink di atas, atau sbb:

Nah, kelak tahun 2020 kalau ada rejeki untuk nonton atau jadi kontingen Olimpiade, boleh lah berkunjung ke salah satu landmark legendaris ini. Dan berdasar pengalaman saya, kalau mau cari oleh-oleh ada baiknya ke area komersil di Tokyo Tower ini. Pilihannya banyak, harganya terjangkau, belum lagi kualitasnya oke-oke. Juga kalau capek, bisa langsung makan/minum dulu di resto sekitarnya. 

*mendadak pengen ke Tokyo lagi*

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *