Tentang Tanggung Jawab & Perlindungan

DISCLAIMER: Postingan berikut ini lebih baik dibaca oleh kamu yang berusia 18 tahun ke atas. Karena materi di dalamnya kurang cocok buat kamu yang berusia di bawahnya. Kalo masih maksa buat baca, pastikan kamu didampingi oleh mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas.

ilustrasi: kondom

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran begitu mendengar kata β€œkondom”? Iya, kondom. Kalo sampe ada yang ga mikir tentang seks, berarti dia ga tau sama sekali kondom itu apaan. πŸ˜› Yah, mau gimanapun juga, kondom memang sangat identik dengan seks. Sekilas aja nih ya, alasan kondom begitu identik dengan seks ya karena… kondom digunakan ya saat berhubungan seks. Gitu.

Pasti pada heran ya, kok tumben-tumbenan saya bahas soal kondom? Tenang, postingan ini bukan cerita ala esek-esek gitu, melainkan lebih ke perihal kesehatan. Lho kok bisa soal kesehatan? Ya jelas toh.. seperti kondom berkaitan dengan seks, seks juga ada kaitannya dengan kesehatan. Iya, karena hubungan seks itu berkaitan dengan alat kelamin, dan alat kelamin itu juga berkaitan dengan tubuh/badan kita yang sudah jelas-jelas harus sehat. *maksa dikit*

Nah, pasti sebagian besar udah tau arah postingan saya bakal ke mana. :mrgreen:

Jadi gini.. ternyata negara kita selain memperingati hari AIDS di tanggal 1 Desember lalu, juga ada namanya Pekan Kondom Nasional yang berlangsung sepekan sejak hari AIDS tersebut. Dan, secara singkat aja ya: kondom itu penting. Terutama buat mereka yang benar-benar peduli sama alat kelaminnya. Kenapa bisa? Jelas bisa. Buat yang pernah belajar soal biologi di SMP atau SMA, pasti pernah denger yang namanya penyakit kelamin, penyakit menular seksual, dan masih banyak lagi. Nah, selain sebagai alat bantu pencegah kehamilan, kondom juga berfungsi untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut.

Iya, kondom bisa berfungsi buat mencegah penyakit kelamin dan penyakit menular seksual terutama buat mereka yang aktif secara seksual dan memiliki risiko tinggi untuk terkena penyakit tersebut. Engga, ini ga terbatas pada mereka yang bekerja di bidang komersialisasi seks, melainkan semua orang. Iya, semua orang yang aktif secara seksual, suka berganti pasangan seks, dan juga memiliki risiko tinggi untuk terkena penyakit.

Tapi ya, bukan berarti orang-orang yang ga memiliki perilaku seperti disebut sebelumnya ga mungkin terkena penyakit kelamin atau penyakit menular seksual. Karena, semua orang bisa terkena walaupun setia terhadap pasangannya. Contohnya: seorang istri yang setia sama suaminya, dan ngira suaminya juga setia padanya, bisa jadi terkena penyakit kelamin/menular seksual kalo ternyata suaminya suka β€œjajan”. Begitupun sebaliknya.

Yang sedikit mengkhawatirkan lagi, kalo dari perilaku orang-orang dengan seks aktif dan memiliki risiko tinggi untuk tertular, adalah jika mereka tertular HIV/AIDS. Meskipun bantuan bisa datang dari manapun, dan obat anti retroviral bisa didapatkan dengan akses apapun, tetap saja akan ada faktor eksternal yang bisa membuat para penderita HIV/AIDS itu hancur mentalnya.

Intinya sih, kalo mau aman ga kena penyakit HIV/AIDS, penyakit kelamin, atau penyakit menular seksual, ya jangan aktif secara seksual. Tahan kehendak untuk melakukan hubungan seksnya setelah nikah dengan pasangan yang sah dan setia. Tapi, kalo ternyata emang udah aktif dan sulit untuk berhenti, ya.. kondom bisa bantu mencegah. Iya, ini bantu mencegah ya bukan berarti 100% mencegah. Karena materi penyusun kondom yang sebagian besar terbuat dari karet, masih bisa bocor. Dan kalo udah bocor? Ya.. udah bisa ditebak, penyakit apapun bisa menular. *bergidik serem*

Melindungi diri itu penting, tapi lebih penting lagi untuk bertanggung jawab – dan, hindari semua risiko buat kena penyakit kelamin, penyakit menular seksual, atau penyakit HIV/AIDS.

Catatan: Tanpa mengurangi isi dan maksud, tulisan ini sedang saya ikutsertakan di lomba blog ini yang juga dalam rangka Pekan Kondom Nasional – 2012 lalu.

9 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *