Tag: Short Story

Short Story #364: Apa Adanya

“So this is it?” Amanda bertanya sambil memperhatikan Yudi yang sudah berada di dekat pintu. “Sepertinya iya.” Yudi menjawab. “Kamu sendiri yang bilang ga ada jalan lain lagi.” Amanda diam. Memperhatikan. Yudi sendiri masih diam, menunggu. “After all these years…” “Semua hal pasti berakhir.” Yudi menyelesaikan. Lalu bergerak mantap membuka kenop pintu. “Aku berubah meski

Short Story #363: Aturan

“Aku ga paham kenapa kamu ga pernah nurut sama yang aku bilang..” Arya berkomentar. “Padahal aku ga pernah kasitau yang jelek, apalagi nyusahin.” Perempuan di depannya hanya diam sambil cemberut. Sebal. “..Alhasil seringkali kamu ujung-ujungnya susah sendiri. Mending kalo cuma susah sendiri, lah ini nyusahin aku juga.” “Bilang kalo emang ga mau disusahin, ntar aku

Short Story #362: Kode

“Fiuh…” Utari menghela napas seraya kemudian menutup laptopnya. Ia terlihat bersiap untuk beranjak dari perpustakaan setelah riset. “Udah selesai?” Hans di sebelahnya bertanya. “Hampir.” Utari menjawab. “Nanti malam gue lanjutin lagi. Lo?” “Gue kaya’nya mau submit seadanya aja ini, tapi besok pagi.” Hans memberitahu. “Ntar malem mau coba eksperimen kecil dulu buat pengesahan yang ditulis.”

Short Story #361: Tak Bisa

“Keputusanmu ini sudah bulat?” Ben bertanya lagi untuk memastikan. “Perlu kubilang berapa kali lagi supaya kamu yakin?” Ida balik bertanya. “Ya.. untuk memastikan saja.” Ben menekankan. “Terutama soal hal-hal yang akan terjadi berikutnya.” “Aku sudah tahu. Dan aku sudah siap.” “Oke.” Ben menenggak minumannya. Mendadak ruang apartemennya terasa lebih hangat. “Kamu kok sepertinya meragukanku? Kenapa?” “Ga kenapa-kenapa.” “Benarkah?”

Short Story #360: Stand Up

“Besok kamu ga perlu dateng lagi.” Pipit berdiri memberitahu Magda yang baru saja duduk di meja kerjanya. Muka Magda terkejut. Ia tak menyangka jika niatan masuk kerja di pagi hari itu akan menemui kondisi seperti itu. “Clean up your desk.” “Aku dipecat?” “If you say so.” Pipit beranjak dan menuju mejanya lagi. Magda masih diam sejenak

Short Story #359: Bukan Sensitif

“Eh, kamu ada di rumah.” Fika menyapa Reni, teman seapartemennya saat ia membuka pintu dan keluar kamar. “Well, I lived here.” Reni menjawab sambil terus menyantap semangkuk es krim di atas sofa ruang tengah. “Kamu yang ke mana aja, kok baru keliatan?” “Di kamar.” Fika menjawab singkat dari atas meja dapur kecil. Menyiapkan makanan. “Hampir kukira kamu minggat.”

Short Story #358: Terbiasa

TOK! TOK! TOK! Pintu apartemen Agnes setengah digedor. Dengan mata yang masih perih karena kantuk serta kepala yang pening karena belum sadar sepenuhnya, Agnes berjalan enggan dari kamarnya ke depan. Agnes melihat sejenak melalui lubang intip di pintunya untuk melihat siapa yang membangunkannya sepagi itu. Lalu, ketika ia sudah tahu, langsung ia buka pintunya cepat-cepat. “Sepagi

Short Story #357: Di Sana Selama Ini

“Di mana lagi yang harus aku tanda tangani? Sudah semua, ‘kan?” Indra bertanya sambil melihat ke arah arlojinya. Ia terlihat antara sebal karena lelah atau ada acara lain. Tapi satu hal yang pasti, ia ingin agar semua ini lekas tuntas. “Sebentar.” Pramita membereskan dokumen-dokumen yang baru selesai Indra tandatangani ke dalam sebuah map, lalu menyiapkan map lain dan mengeluarkan isinya ke

Short Story #356: Ruang

Mira baru akan mengetuk pintu apartemen Sakti ketika Sakti membuka pintu dan hendak keluar dari dalamnya. Selanjutnya mereka justru saling diam menatap canggung. “Eh, kamu..” Sakti akhirnya angkat bicara. “Hai..” Mira menyapa. “Mau masuk?” “Ya mau ngapain lagi?” Mira menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Meski bukan itu sebenarnya pertanyaan yang sudah lama ia pendam dan hendak tanyakan ketika

Short Story #355: Kenangan

“Seru kali ya kalo hidup di masa depan.” Joanna berandai-andai. “Kamu pikir kita sekarang hidup di masa apa?” Felicia menjawab sambil menutupi matanya yang silau diterpa mentari senja. “Present. Masa sekarang.” Joanna menjawab sambil menoleh. “Karena waktu itu relatif, bisa juga yang kamu sebut sekarang itu sebenarnya masa depan dari masa lalu.” Felicia menjawab. “Ugh.. you and your