Short Story #96: Beda Beberapa Menit Saja

Dering ponsel Dian perlahan membuyarkan mimpi dalam tidurnya. Sambil
malas-malasan, Dian mengangkat ponselnya tanpa membuka mata.

“Halo…” ucap Dian parau.

“Hei, Cantik! Ayo banguuunnn…!” jawab suara di seberang yang sanggup
membuat Dian segera membuka mata.

“Edwiiinn… Aku kangeeennn…” suara Dian segera berubah manja.

“Aku tau Sayaaaanngg.. Aku juga kangen kamuuuuu…” jawab Edwin menimpali.

“Kamu kapan pulang, Win?” tanya Dian.

“Aku baru pulang nih…” jawab Edwin.

“SERIUSAN?!” seru Dian sambil terduduk.

“Iya.. Baru pulang dari kampus ke flat..” jawab Edwin sambil kemudian terkekeh.

“Iiihhh… Aku serius, malah dibecandain..” Dian berubah ngambek.

“Lah ya abis udah tau cowoknya ini lagi kuliah dapet beasiswa, koq ya
ditanyain mulu kapan pulang?” Edwin berkelit.

“Hih! Leluconmu ga mutu!” nada suara Dian marah sambil menjauhkan ponselnya.

“Eh! Jangan dimatiin teleponnya! Kan mahal nih internasional!” Edwin
segera meminta.

Dian pun mendekatkan kembali ponselnya ke telinga.

“Jangan ngambek dong Sayang.. Masa’ mau ultah koq ambegan.. Nanti ga
dewasa-dewasa dong..” Edwin meminta.

“Yee.. Masih aja ya ngeledek.. Gini-gini juga ada yang mau!”

“Iya, aku yang mau.. Cowok laen sih, mana mau sama cewek childish kaya’ kamu..”

“Aku tutup teleponnya, nih!” Dian mengancam.

“Eh, jangan-jangan! Duh… Jangan ambegan gitu dong, Manis.. Nanti aku
kasih banyak oleh-oleh deh.” Edwin merayu.

“Aku ga butuh oleh-oleh. Aku butuh kamu!” jawab Dian segera.

Edwin tak segera menjawab. Hening tercipta di antara mereka.

“Udah hampir jam 12 malam ya di sana.. Tinggal beberapa menit lagi nih
kamu jadi birthday girl..” Edwin mengalihkan.

“Yeah.. Lonely birthday girl..”

“Ah engga.. Kan ada aku..” ucap Edwin.

“Beda 7 zona waktu koq ya dibilang ada…” Dian merespon.

“Bikin permintaan hadiah ultah dong, supaya aku ga sampe beda 7 zona
waktu sama kamu..” ucap Edwin.

“Emang ampuh?”

“Udah.. Bikin permintaan hadiah ultah aja dulu.. Tapi diucapin lewat
telepon, ya..” Edwin meminta.

“Kenapa harus diucapin lewat telepon?” tanya Dian.

“Kadang, keinginan terdalam kita harus diucapkan agar dihayati
sungguh-sungguh sama alam semesta..” jawab Edwin. “Udah, sekarang
ucapin keinginan kamu!”

Dian diam sejenak sambil menarik napas. “Aku minta hadiah ulang
tahunnya kamu cuma beda beberapa menit aja dari aku..”

“Your wish, is about to be fulfiled..” jawab Edwin sambil memutus
sambungan telepon tiba-tiba.

Belum hilang keheranan Dian dengan putusnya sambungan telepon dari
Edwin, ketika tiba-tiba bel pintu apartemennya berbunyi.

Tanpa ganti baju, Dian bergegas menuju pintu depan untuk mengetahui
siapa yang berada di sana. Tanpa perlu melihat melalui lubang intip,
ia membuka pintunya.

“Edwiiiiinnn…!!!”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *