Short Story #95: Suatu Pagi di Taman Kota

Pagi itu taman kota tak terlalu ramai walau hari Minggu. Mungkin,
sebagian warga kota sedang berlibur keluar kota. Mungkin, warga kota
sudah lupa akan taman kota. Tapi, tidak dengan Benny.

Sambil sesekali melihat ke arah danau di depannya, Benny membaca buku
yang ia pegang dengan tekun. Membiarkan desir angin menyibakkan poni
di dahinya sekali waktu.

“Apa yang lagi kamu baca?” tanya seorang gadis yang sudah berdiri di sampingnya.

Benny berhenti membaca bukunya, lalu menatap gadis itu. “Aku lagi baca
buku cerita fantasi.”

“Oh, tentang dongeng gitu?” tanya gadis itu terlihat tertarik.

“Iya..” jawab Benny pelan. “Tepatnya tentang ular naga, hutan mistis,
dan para ksatria gagah berani..”

“Wah! Aku juga suka!” seru gadis itu. “Aku boleh duduk di samping kamu?”

“Buat apa?”

“Aku pengen denger ceritanya..” ucap gadis itu tanpa kehilangan
gairahnya. “Tentu, itupun kalau kamu mau nyerita buat aku..”

“Oh.. Boleh aja..” jawab Benny sambil bergeser mempersilakan gadis itu
untuk duduk.

“Jadi, gimana ceritanya?” tanya gadis itu setelah duduk.

“Kamu ga mau dengar dari awal?” tanya Benny.

“Ga usaaaaahh.. Langsung aja dari yang kamu baca..” jawab gadis itu antusias.

“Oke..” respon Benny. “Jadi, ceritanya si Leonard sang ksatria, lagi
tersesat di hutan mistis dalam perjalanannya buat nyari pedang
bertuah..”

Gadis itu tiba-tiba mengernyitkan dahinya. “Aku sepertinya pernah
denger cerita itu deh..”

Benny tak menjawab. Tapi dalam hatinya timbul rasa harap.

“Leonard ini yang bakal ketemu Demon si penjaga jalan itu bukan?”
tanya gadis itu.

“Iya..” jawab Benny singkat.

“Oohh.. Kalo gitu aku udah tau.. Pasti nanti pedang bertuahnya buat
naklukin raja bengis di negeri seberang kan? Dan, sebelumnya dia bakal
temenan sama naga itu kan?” tanya gadis itu lagi.

Kali ini, Benny tersenyum kecil. “Iya, bener sekali..”

“Kalo gitu aku udah tau ceritanya..” gumam gadis itu. “Tapi aku tau
dari mana, ya?”

“Mungkin dulu ada yang pernah ceritain sama kamu juga..”

“Kaya’nya iya.. Tapi siapa, ya?” gadis itu bertanya-tanya sendiri.

Benny ingin sekali memberitahu jawabannya, tapi ia memilih diam. Menunggu.

“Ah.. Aku ga tau..” ucap gadis itu. “Kalo gitu aku ga jadi denger
ceritanya ya.. Aku mau keliling taman lagi ah..”

Gadis itu segera beranjak dari samping Benny tanpa sempat Benny
mencegah. Tak lama, gadis itu sudah berlari-lari riang di sekitar
padang rumput dekat bangku di mana Benny duduk menatapnya.

“Kemajuan?” tanya seorang pria berumur yang berdiri di belakang kursi Benny.

“Dia udah mulai inget cerita ini, Pah.. Mudah-mudahan selanjutnya dia
bisa inget aku, Papah, dan keluarga kita semua..” jawab Benny.

“Kabar yang bagus, Ben.. Bener kata kamu kalo kita harus perlahan buat
bikin dia inget..” jawab pria itu. “Tapi aku semakin tua, Ben..”

“Aku akan jaga anakmu sebisa aku, Pah.. Biarpun ingatannya ilang, tapi
dia tetap istriku..”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *