Short Story #94: Berseberangan

Tedi larut dalam diam. Tubuhnya terasa lelah. Tenggorokannya masih
terasa tegang. Kepalanya panas. Tapi semua tak ia tunjukkan, melainkan
hanya termenung sambil menatap pecahan gelas di depannya.

“Aku capek begini terus..” ucap Sifa di salah satu kursi tak jauh dari
Tedi. “Kita harus berhenti ngelakuin ini semua, Ted.”

Tedi tak menjawab, melainkan hanya menggeser badannya sedikit di atas
kursinya. Ingin sekali dalam hatinya ia menatap Sifa, tapi benaknya
menolak.

“Mungkin lain kali ga bakal ada gelas lagi yang bisa aku lempar.
Mungkin barang-barang lain.” kata Sifa. “Mungkin takkan ada barang,
tapi lebih buruk dari itu..”

“Don’t say like that.” jawab Tedi. “Kita cuma perlu berubah jadi lebih
baik aja..”

Sifa mendengus. “Kita?”

“Iya, kita.” jawab Tedi datar.

“Mungkin bukan kita yang perlu berubah, tapi salah satu dari kita.”
respon Sifa. “Kita terlalu berbeda, Ted. Mungkin kalo salah satu
berubah jadi seperti yang satu lagi, kita jadi sama. Dan… Ga ada
lagi perbedaan..”

Tedi tersenyum kecil. Sifa melihatnya dari sudut matanya, meski ia
menatap ke arah lain.

“Perbedaan itulah yang justru membuat kita bersama, Fa..” Tedi memberitahu.

“Tapi kalo perbedaan itu sampai membuat kita berseberangan, gimana? Ga
akan ketemu apa yang sama, dong!” elak Sifa tak setuju sambil melihat
Tedi.

Tedi menoleh ke arah Sifa seakan tahu jika Sifa sudah melihat ke arahnya.

“Kita memang berseberangan. Di sisi yang berseberangan tepatnya.” kata
Tedi datar. “Kamu di sisi sana melihatku, dan aku di sisi ini
melihatmu. Kalau kita di sisi yang sama, takkan mungkin kita saling
melihat, bertemu, atau mungkin mencintai, ‘kan?”

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *