Short Story #86: Secret Admirer

Short Story #86: Secret Admirer

Sore itu hujan. Rintik-rintik namun deras. Ingin rasanya Sheila berlari menembus hujan, mencegat bus kota, dan segera menuju stasiun kereta terdekat dari kantornya. Tapi, ia tak melakukannya. Ia memilih diam di balik hening kantornya. Di balik jendela di lantai 17 gedung tempatnya berkantor.

“Bentar lagi jam 7, lho.” suara di belakangnya memberitahu.

“Iya, aku tahu.” Sheila menjawab. “Tapi aku tunggu ujannya kecil dikit ah. Kamu sendiri kenapa belom pulang, Mad? Tumben-tumbenan.”

Ahmad tak menjawab. Ia hanya melihat Sheila yang kini bersandar ke jendela dan melihat ke arahnya.

“Mau ngedate ya?” Sheila mulai menggoda.

“Ah.. kamu bisa aja, La. Mana ada cewek yang mau sama cowok macam aku gini? Udah item, ceking pula.” jawab Ahmad.

“Some girls don’t look at boys physically.” ucap Sheila.

“But most of them do.”

“Yeah, maybe.”

“Terus, selain karena ujan, kenapa kamu belum pulang?” tanya Ahmad pada rekan sekerjanya itu.

“Well.. I’m waiting for something.”

“Apa?” Ahmad mulai tertarik dengan menempelkan dirinya ke ambang kubikel Sheila. Tangan kirinya menempel ke atas kubikel sementara tangan kanannya tersembunyi.

Sheila bergerak mendekati mejanya. Secarik kertas kecil ia tarik dari bawah keyboardnya. Sebuah kalimat pendek tertera di sana.

“Pagi ini, dan juga pagi-pagi sebelumnya, gue nemu kertas begini di bawah keyboard gue. Seneng rasanya ada yang dengan rajinnya bikin ginian buat gue. I feel so special. It’s nice to have a secret admirer.” ucap Sheila.

“Well, congrats for you.” ucap Ahmad. “And you’re waiting for the next notes?”

“Nope.” jawab Sheila.

“Terus apa?”

Sheila bergerak mendekati Ahmad.

“I’m waiting for you, to put the notes again below my keyboard.” ucap Sheila seakan menjawab ekspresi Ahmad yang terkejut. “Yes Ahmad, I know. And I’ve been waiting for you, for all these times.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *