Short Story #85: Tipe Yang Dicari

Ivan baru memutar kenop kompor untuk memasak, ketika pintu apartemennya diketuk.

TOK! TOK!

Segera saja Ivan mematikan kembali kompornya untuk membuka pintu sambil melihat ke jendela kecil untuk melihat siapa yang datang.

“Masuk, ‘Wi.. Ngepas banget, loe kemari gue lagi masak.” ucap Ivan sambil membuka pintu. “Laper ga?”

“Gue udah makan, ‘Van. Makasih.” jawab Dewi sambil masuk ke dalam apartemen dan langsung menuju ke sofa kecil.

“Kalo mau minum, langsung ambil aja, ya. Gue sambil masak.” Ivan memberitahu sambil menutup pintu, dan langsung menuju dapur kecil apartemennya yang terletak tak jauh dari sofa yang diduduki Dewi.

“Iya. Gampang, lah..” jawab Dewi sambil kemudian meregangkan badannya di sofa. Ia lalu menutup mata sambil merebahkan kepalanya ke sandaran sofa.

Ivan kemudian menyalakan kembali kompornya dan langsung memasukkan bumbu-bumbu masak. Tak lama, yang terdengar adalah suara paduan alat masak serta desisan masakan.

“Loe bukannya malem ini harusnya dinner bareng ortu loe?” tanya Ivan setelah beberapa lama.

Dewi tak langsung menjawab. Hanya dengusan dan helaan napas yang terdengar.

Ivan kemudian mematikan kompornya. Ia mengambil sebuah piring makan, dan menyajikan hasil masakannya. Setelah selesai, ia membuka kulkas dan mengeluarkan dua botol minuman ringan.

Dengan piring masakan di tangan kiri, serta dua botol minuman dijepit di tangan kanan, Ivan berjalan mendekati Dewi. Ia duduk di sofa kecil di seberang Dewi.

Perlahan, Dewi membuka mata sambil menegakkan duduknya.

“Softdrinks..” Ivan memberitahu sambil menunjuk dua botol minuman ringan di atas meja kecil di antara sofa yang mereka duduki.

“Gue malah penasaran sama masakan loe, Van. Baunya harum..” respon Dewi sambil mendekati Ivan, dan mengambil sesendok masakannya untuk langsung dikunyah.

“Masakan yang pake bumbu bawang merah dan bawang putih emang selalu ngasih aroma yang enak sih.” Ivan memberitahu.

“Iya ya. Padahal ini cuma telor dadar doang.” kata Dewi sambil kemudian tertawa kecil.

“Yah.. begitulah..” jawab Ivan. Ia lalu mengambil sendok di tangan Dewi dan mulai makan masakannya sendiri. “So, I suppose it didn’t work well?”

“Apanya?”

“Itu, dinner sama ortu loe..” kata Ivan pelan-pelan sambil mengunyah.

Dewi menghela napas lagi.

“Emang keliatan banget ya, ‘Van?” Dewi balik bertanya pada sahabatnya sejak kuliah tersebut.

“Yah.. begitulah..” jawab Ivan sambil mengambil botol softdrink dan meminumnya.

“Pusing gue gara-gara dinner tadi. Banyaaaaakk bener request mereka. Jadi nyesel gue ikut dinner tadi.” Dewi memulai curhat.

“Lah, emang request apa? Koq bisa sampe susah bener?” tanya Ivan.

“Mereka minta mantu. Secara, tinggal gue doang anak mereka yang belom merit.”

“Oh.. iya..” celetuk Ivan di tengah-tengah kunyahannya. “Emang susah ya dapetin mantu buat mereka?”

“Ya susah lah.. kriterianya banyak bener! Musti liat bibit-bobot-bebet.. entahlah apa itu artinya..”

“Wew..” respon Ivan segera.

“Padahal gue sendiri kalo emang bener diminta cari mantu buat mereka, ga pengen yang repot-repot.” Dewi berkilah.

“Emang? Bukannya loe sendiri pernah bilang kalo punya banyak kriteria kalo ada cowok yang mau sama loe?”

“Hih.. itu kan gue mau ngebuktiin aja, seberapa gede rasa suka mereka sama gue. Kalo baru gue tes dengan kriteria-kriteria spesifik aja udah ngeper, gimana mau dijadiin suami coba?”

Ivan mengangguk-angguk sambil bergumam kecil. Makannya sudah habis. Ia kini sedang menikmati softdrink-nya.

“Emang kalo mau jadi suami loe, lebih sederhana gitu?” tanya Ivan.

“Iya. Tipe yang dicari buat gue jadiin suami ya simple aja kok.”

“Apa aja?”

Dewi menarik napas sejenak. “Yang penting udah lama kenal gue, mau terima gue apa adanya, dan yang paling penting jago ngerjain pekerjaan rumah, secara gue ga begitu suka pekerjaan-pekerjaan rumah.”

“Ooo.. emang ada ya cowok kaya’ gitu dan bisa atau mau dijadiin suami loe?” tanya Ivan lagi.

“Ada sih.. tapi soal mau apa enggaknya yang gue bingung.” ungkap Dewi.

“Lho kenapa? Kan tinggal tanya aja. Udah wajar kan cewek yang nanya duluan, apalagi ngajak merit duluan.” Ivan memberi saran.

Dewi diam sejenak. Air wajahnya sekilas berubah.

“Trus, loe mau ga?” tanya Dewi serius.

“Eh?” Ivan tersedak minumannya.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *