Short Story #81: Momen

“Gimana taun baru kemaren? Seru?” tanya Arthur pada Mala ketika baru sampai di kantor.

Mala yang sudah lebih dulu tiba di kantor, hanya melihat sebentar ke arah Arthur lalu kembali membereskan beberapa berkas di atas mejanya.

“Okay, no answer means not good.” Arthur menyimpulkan sendiri sambil langsung menuju meja kerjanya.

“Kenapa berkesimpulan begitu?” Mala tiba-tiba langsung bertanya. Menghentikan langkah Arthur.

“Keliatan lah, dari bahasa tubuhmu. Jawabannya antara males jawab karena emang menurut kamu itu personal thing, atau emang ga ada yang seru di taun baru kemaren.” ucap Arthur. “Dan aku prefer jawaban yang kedua.”

“Kenapa?”

“Karena… yah, karena dugaan aku mengarah ke situ.”

“Ada bukti?” tanya Mala lagi.

Arthur mengeluarkan ponselnya. Ia membuka beberapa aplikasi sekaligus.

“Di foursquare, keliatan kalo kamu tetep check in di rumah. Begitupun di google latitude. Dan, aku liat di twitter, kamu terakhir kali ngetwit soal ‘tayangan TV yang ga bernuansa taun baru’.” jawab Arthur panjang lebar sambil memperlihatkan bukti.

Mala terkejut.

“Dasar stalker..” Mala menuduh Arthur yang hanya tersenyum.

“Yah.. aku lagi iseng aja sih..”

“Iseng atau emang acara taun baru kamu juga ga seru?” Mala langsung mendakwa.

Arthur diam sejenak.

“I won’t say so. Aku cuma mikir aja, apa iya kemaren momennya pas, atau harus nunggu lain waktu.” jawab Arthur.

“Momen buat apa?” tanya Mala.

Tangan kiri Arthur meraih sekuntum bunga mawar dari tasnya dan mengulurkannya ke Mala. “Momen buat ngajak kamu jadian.”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *