Short Story #76: Tempat yang Tepat

“Jadi, setelah ini mau ke mana lagi?” Karen bertanya sambil menutup retsleting koper di atas kasur.

“Entahlah, aku belum tahu.” Eddie menjawab dengan nada datar. Ia melihat ke luar jendela. Di balik garis-garis air yang seakan memenjara.

Karen menarik napas. Ia lalu duduk di atas kasur.

“Kamu ga harus pergi kalo ga pengen.” ucap Karen.

Eddie menjawab. “Aku harus pergi.”

“Tapi kenapa?”

Giliran Eddie yang menarik napas. “Aku seperti awan. Aku harus selalu pergi. Aku harus berada di tempat-tempat yang butuh aku.”

“Tapi di mana itu?” tanya Karen lagi.

“Di mana pun. Mungkin seluruh dunia.”

“Tapi apakah kamu akan kembali ke tempat yang sama?”

“Pasti. Tapi aku ga tau kapan.” kata Eddie sambil masih menatap jendela. “Apa kamu bisa nebak kalo aku bakal ngehubungin kamu beberapa hari yang lalu itu? Sejak terakhir kali kita ketemu?”

Karen diam. Ia menatap lantai.

“Tujuh bulan, dan dua belas hari sejak terakhir kali aku ngeliat kamu boarding pesawat di bandara.” Karen memberitahu.

Eddie membalikkan badannya. Ia menatap Karen. “For all this time, you’ve been counting?”

Karen mengangkat bahu. “You know I’m good at numbers.”

“Tapi kenapa?”

Karen mengangkat bahunya lagi. “Entahlah. Mungkin aku berharap. Mungkin juga aku pikir aku tahu di mana tempat yang tepat buat kamu. Tempat di mana kamu ga perlu pergi lagi. Tempat terakhir atau tempat terlama yang akan kamu tempati, tanpa harus khawatir bakal dibutuhin di tempat lain.”

Eddie berjalan mendekati Karen yang balik menatapnya sambil tetap duduk di atas kasur.

“Emangnya ada?” tanya Eddie.

“Ada.”

“Di mana?”

"Di sini, bersamaku." jawab Karen.

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *