Short Story #74: Alasan Datang Pagi

Dewi melewati meja resepsionis yang ditempati satpam jaga malam, lalu
menuju lorong kubikel. Ia berjalan dengan mantap ke arah kubikelnya.

Lalu, di sebuah kubikel ia melihat rekan sedivisinya tengah duduk
sambil mengecek paperwork hari sebelumnya.

“Pagi, Brama..” sapa Dewi sambil melihat sekilas.

Tanpa menunggu sapaan balas, Dewi terus berjalan. Tapi, di belakangnya
terdengar Brama balas menyapa.

“Pagi juga, Dewi..”

Dewi sudah tiba di kubikelnya. Ia menyimpan tas, lalu menyalakan
komputer dan monitornya. Sambil menggeser kursinya, Dewi melihat
beberapa notes kecil yang tertempel di satu sisi kubikelnya.

“Oke, to-do list hari ini udah siap.” Dewi bergumam sendiri.

Dewi kemudian mengambil gelasnya yang kosong di meja, sambil keluar
kubikelnya. Ia menuju pantry. Hendak menyeduh kopi.

Sambil berjalan, ia melewati lagi kubikel Brama. Sekilas, ia melihat
Brama tengah menatap layar monitornya. Tanpa rasa penasaran, Dewi
kembali melaju. Menuju pantry.

Setelah 1 sendok kopi, 2 sendok krimer, & 3 sendok gula, Dewi
melarutkan kopi di gelasnya dengan air panas. Setelah menunggu sekitar
10 menit, Dewi kemudian mengaduk kopinya.

Perlahan, Dewi berjalan keluar pantry, lalu menuju kubikelnya. Dari
jauh, ia melihat Brama tengah melihat ke luar arah jendela di dekat
kubikelnya.

“Mataharinya lagi bagus, Bram, buat kulit..” ucap Dewi sambil berhenti
di dekat kubikel Brama.

Brama lalu menoleh, “Iya, jam segini lagi bagus. Tapi aku males keluar, ah..”

“O.. Udah keburu enak duduk di kantor, jadi males ke mana-mana, ya?”
tanya Dewi sambil masih mengaduk kopinya.

“Ya, bisa dibilang gitu..” jawab Brama sambil kini menghadap Dewi sepenuhnya.

“Eh btw, tanya dong.. Gue penasaran deh.. Kaya’nya semenjak loe pindah
ke divisi gue, loe dateng paling pagi mulu.. Biar ga kena macet, ya?”
tanya Dewi.

“Ga gitu juga sih, tapi ya itu salah satunya.” ucap Brama.

“Oh, atau biar dapet tempat parkir yang enak?”

“Gue ‘kan naek bus kota.. Ga bawa kendaraan.. Masa’ iya rebutan
parkir?” respon Brama sambil setengah tersenyum.

Dewi merasa ada yang sedikit melintas di benaknya. Tapi, ia mengira
itu disebabkan karena ia baru tahu jika Brama ke kantor dengan
angkutan umum.

“Trus, apa dong alasan loe dateng pagi? Masa’ iya karena mau ngenet
kenceng mumpung belom rame?” tanya Dewi.

“Ya, emang kenapa kalo ternyata itu?” Brama balik bertanya.

“Menurut gue sih, loe bukan tipikal orang begitu, Bram.. Abis, kalo
gue lewat kubikel loe tiap pagi, loe pasti lagi ngecek kerjaan
ini-itu..” ucap Dewi.

“Oh, iya ya..” jawab Brama. “By the way, loe merhatiin aja, deh..”

“Ya mau gimana lagi, Bram? Secara, tiap kali gue dateng pagi loe udah
ada di kubikel.. Dan, gue kan tiap pagi lewatin kubikel loe..” kata
Dewi sambil kemudian meneguk kopinya yang sudah cukup larut.

“Iya juga sih..” ujar Brama.

Dewi kembali meneguk kopinya, sementara Brama berdiri di depannya.

“Trus, jadinya apa?” tanya Dewi.

“Apanya yang apa?”

“Itu, alesan loe dateng pagi..” tanya Dewi.

“Oh.. Itu..” kata Brama sambil mendengus. “Alesan gue dateng pagi ya
supaya bisa ketemu loe pas masih fresh.. Sapaan loe, senyum loe itu,
moodbooster efektif buat gue..”

Mendadak Dewi tersedak sedikit kopi yang tengah diminumnya.

5 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *