Short Story #7: It’s You The One I’m Waiting For

“Kenapa sih kamu belom merit juga, Ne?” tanya Daniel.

Ine meminum kopinya. “Belom kepengen aja, Niel.”

“Serius? Sama sekali ga pernah kepikiran gitu?” Daniel bertanya lagi.

“Kepikiran ya pernah, tapi ya bawa santai aja sih. I’m not in rush.”
jawab Ine santai.

Daniel diam. Kini gilirannya yang meminum kopinya.

“Tumben kamu nanya begitu.” ujar Ine. “Kamu sendiri kenapa belom merit?”

Daniel tiba-tiba tersedak ketika menelan kopinya. Ia buru-buru
menyimpan gelas ke meja, sambil mengambil tisu untuk menutupi mulutnya
yang batuk-batuk.

“Lho? Is there something wrong with my words?” tanya Ine lagi.

Daniel sudah berhenti batuk, ia langsung menatap Ine. “Ga. Ga ada yang
salah sama kata-kata kamu.”

“Oo..” jawab Ine.

Lalu hening, meski kedai kopi tempat mereka berada siang itu cukup
ramai. Ine tak bertanya lagi pada Daniel meski ia masih penasaran.

“Aku lagi nunggu orang. Itu alesan aku belom merit juga.” Daniel
berkata pelan. Ine langsung menatap Daniel, rasa penasarannya timbul
lagi.

“Siapa?” tanya Ine segera. “Aku kenal?”

“Harusnya sih, kamu kenal.” jawab Daniel. “Aku udah lama ngebet pengen
ngajak merit dia padahal, tapi ya… dianya belom nyadar aja
kaya’nya.”

Ine makin penasaran. “Hmm.. Nisa? Tere? Lili?”

Daniel terus menggeleng. “Nope, not one of them.”

“Trus siapa?”

Daniel diam sejenak. “She’s here.”

Ine buru-buru tolah-toleh sekitar kedai kopi. Ia mencoba mencari wajah
yang ia kenal. Tapi, ia tak juga menemukannya.

“Niel, stop teka-tekinya ah. Aku ga nemu siapa orangnya nih!” Ine
menatap Daniel yang justru tersenyum tipis.

Daniel menarik napas. “It’s you the one I’m waiting for.”

Ine membelalakkan matanya. Ia tak percaya dengan perkataan Daniel yang
baru saja ia dengar.

“Yes, it’s you. So, would you marry me?” Daniel menegaskan sambil
menyodorkan kotak cincin yang entah bagaimana caranya sudah ada di
meja.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *