Short Story #68: Tanggal Cantik

“Jadinya kapan?” tanya Mira pada Prast yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya.
“Apanya yang kapan?” Prast balik bertanya sambil berhenti mengetik dan menatap ke arah kekasihnya tersebut.
“Itu.. kapan..?”
“Itu apaan?” Prast penasaran.
Mira menghela napas. “Prast, kita kan udah tunangan. Ga ada kelanjutannya gitu?”
Prast langsung tersenyum. “Oh, jelas ada.”
“Nah, kapan?” tanya Mira segera.
“Tunggu nanti aku kasih tahu.” jawab Prast.
“Dari 3 bulan yang lalu kamu selalu bilang gitu..” Mira mengeluh sambil membalikkan badannya dan menghadap ke arah TV yang sedang menyala.
Prast menyimpan laptopnya, lalu mendekati Mira.
“Kan biar kejutan, Sayang..” Prast mencoba menghibur dari belakang punggung Mira.
“Untuk hal ini, aku butuh kepastian. Bukan kejutan.” sahut Mira tanpa menatap Prast.
Prast diam sambil menyentuh pundak Mira. Tapi, Mira langsung mengedikkan bahunya. Tanda bahwa ia tak ingin disentuh. Sedang sebal. Marah.
“Aku penasaran deh, kenapa sih kamu pengen tau banget?” tanya Prast.
Mira langsung membalikkan badannya. Ia menatap langsung ke arah Prast.
“Aku kan pengen ngerencanain, Prast. Aku kan pengen semuanya sempurna. Belum lagi, kan nanti pasti keluarga besar aku bakal milih tanggal baik lah, tanggal cantik lah, tanggal bagus lah. Semua itu kan pasti butuh waktu…” Mira memberitahu.
Prast tersenyum. Ia melihat ke arah Mira dengan tatapan yang mendalam.
“Aku ga perlu tanggal cantik. Karena saat aku memulainya bersama kamu, itulah tanggal cantik bagiku.”

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *