Short Story #66: Bintang Jatuh

“Jadi ga sih?” celetuk Nisa sambil melihat ke gelapnya langit malam.

“Harusnya sih jadi. Sabar dikit lah.” jawab Adi sambil menaikkan
sleting jaketnya hingga ke leher.

“Abis tumben lama. Taun kemaren kaya’nya jam segini udah mulai.” Nisa
berpendapat.

“Yah, mungkin udah makin dikit karena tiap taun terjadi.” jawab Adi.

Lalu hening. Kedua remaja yang bersahabat sejak bertetangga belasan
tahun yang lalu itu, sibuk dengan makan bekal sambil mata tetap
tertuju ke angkasa.

“Iya ya, lama juga.” Adi berujar sambil melirik sekilas ke arlojinya.

“Bener ‘kan, kata gue?” sahut Nisa.

Adi tak menjawab. Ia kemudian merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan
sebuah teropong compact.

“Ya pake itu mana bisa ngeliat lah, Di..” Nisa berpendapat sambil
melihat Adi meneropong langit.

“Nyoba ga ada salahnya, ‘kan?” Adi berargumen sambil melihat ke
beberapa arah langit.

“Ga salah sih, tapi ya kita kan udah di atap rumah gini, harusnya udah
cukup tinggi lah..” Nisa berpendapat lagi.

Adi tak menjawab. Ia masih melihat ke arah langit dengan teropongnya.

Lalu, selintas cahaya terlihat membelah gelapnya langit malam.
Garisnya tipis, tapi pasti terlihat oleh mata telanjang.

“Udah mulai!” Adi bersorak sambil menunjuk ke salah satu titik di langit.

Nisa bergegas melihat ke arah langit sesuai petunjuk Adi. Tapi, tak
lama ia menutup matanya erat-erat.

Adi pelan-pelan menurunkan teropongnya. Ia kemudian melihat ke arah
Nisa di sampingnya yang tengah menutup mata.

“Loe bikin permintaan sama bintang jatuh, yak?” tanya Adi.

“Mau tau aja ah..” jawab Nisa sambil masih tetap terpejam.

Tiba-tiba, hati Adi berdebar. Dan, entah dorongan dari mana ia pun
bergerak mendekati Nisa. Matanya tertuju hanya pada Nisa, tak lagi
peduli akan langit yang mulai dihiasi beberapa garis perak tipis.

Cup!

“Wah.. Permintaan gue terkabul!” sorak Nisa sambil membuka mata dan
memeluk Adi di depannya.

3 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *