Short Story #65: Belajar Seni

“Pah, Michelle katanya pengen belajar seni, tuh.” Wita memberitahu suaminya sambil duduk di hadapannya.

Henri yang tengah membaca koran, langsung menatap istrinya dengan muka semangat.

“Dia mau belajar seni, Mah? Serius?” tanya Henri.

“Iya, Pah. Katanya udah kepengen banget dia belajarnya. Udah lama dia liat sana-sini, dan katanya seni itu seru.” jawab Wita.

Henri, seorang karyawan yang pernah menjadi gitaris salah satu band di saat kuliah, tersenyum kecil.

“Emang seni itu seru, Mah. Buktinya dulu Papah pernah ngeband. Pasti bakat seninya nurun dari Papah.” Henri membanggakan dirinya.

Wita mengangkat alisnya.

“Emang kalo seni gitu ada bakat turunan, ya Pah?” tanya Wita polos.

“Iya dong, Mah. Kan tadi udah Papah bilang, pasti Michelle pengen belajar seni karena dulu Papah pernah ngeband. Yah, sama-sama seni gitu..” kembali Henri menyombongkan diri.

“Tapi Mamah ga ngeliat hubungannya deh, Pah.”

“Lho, kenapa engga? Kan ngeband itu seni musik, Mah..” jawab Henri segera.

“Iya sih, kalo itu Mamah tau. Tapi ini Michelle seninya beda deh, Pah.” jawab Wita.

“Apapun, yang penting seni. Pasti Papah dukung!” Henri menegaskan. “Michelle pasti bakal jadi lebih girly deh Mah. Ga tomboi kaya’ sekarang.”

“Oh, emang bisa ya belajar seni ngubah sifat tomboi gitu?” tanya Wita.

“Ya pasti bisa, dong!” Henri kembali menegaskan.

“Mamah baru tau kalo seni beladiri itu, nantinya bisa bikin anak cewek jadi lebih girly.” Wita mengambil kesimpulan singkat.

“Hah?!”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *