Short Story #57: Setelah Lampu Menyala

PET! Suara lampu di ruang tengah meletup pelan yang diikuti oleh
padamnya listrik rumah. Dita yang tengah menonton TV, langsung
mengomel pelan.

“Ini kenapa lagi sih mati lampu. Rese amat dah.. Gue lagi asik nonton
tv juga..” ucap Dita sambil lalu berdiri sambil menyalakan lampu
ponselnya.

Di tengah-tengah remang-remang lampu ponsel, Dita bergerak menuju
pintu depan. Kira-kira 10 langkah lagi, terdengar orang menuruni
tangga.

“Dit, koq mati lampu sih? Loe nyalain apaan? Tugas-tugas gue ilang
seketika nih jadinyaaa…” Rani mengomel.

“Heh! Gue cuma nyalain tv tau! Loe kali tuh, nyalain kompu jadi
arusnya spaneng dan mati. Mudah-mudahan aja ga korslet ni MCB..”
hardik Dita sambil berhenti, dan mencoba melihat ke arah Rani.

“Alaahh.. Biasanya juga kuat gue nyalain kompu..” jawab Rani saat tiba
di lantai dasar, berdekatan dengan Dita.

“Udah ah, jangan berisik loe. Gue mau nyalain listriknya, nih..” ujar
Dita sambil kembali berjalan menuju pintu.

“Dit! Tungguin!” panggil Rani sambil segera menyusul Dita. Entah
karena panik, Rani pun langsung menabrak Dita dari belakang hingga
keduanya tersungkur hingga berlutut. Ponsel Dita terlempar ke arah
pintu dengan lampu yang masih menyala.

“Loe kenapa pake lompat, sih?!” Dita mengomel sambil mengelus-elus lututnya.

“Ya abis, gue kan takut.” jawab Rani sambil mengabaikan rasa sakit di
lututnya, dan coba menempel Dita meski sulit terlihat dalam gelap.

“Halah.. Mati lampu doang koq ya takut..” Dita mengejek.

“Ih.. Bukan gitu Dita.. Gue abisnya tiba-tiba keinget aja sama
ceritanya Mbak Sifa, yang baru pindah dari kost kita itu lho..” ucap
Rani dengan nada suara yang mulai bergetar.

“Apaan? Yang soal keanehan lampu padam tapi ga jelas asal-muasalnya
itu?” tanya Dita.

“Iya..” jawab Rani pelan, rasa takut mulai menghinggapinya.

“Alaaahh.. Gue yang lebih lama tinggal di sini, biasa aja lah..”
respon Dita sambil coba berdiri. Dalam gelap, ia merasa Rani memegangi
pundaknya.

“Tapi kan..”

“Udah. Diem aja. Gue sih yang kepikir sekarang adalah ini listrik
harus cepet nyala. Rabun nih gue kalo gelap gini..” ucap Dita.

Dan, tiba-tiba saja lampu ruangan kembali menyala.

Dita pun menoleh ke arah Rani yang ada di belakangnya. Rani terlihat
sedang tolah-toleh melihat sekeliling ruangan. Kanan-kiri. Atas-bawah.

“Tuh, udah nyala. Ga ada apa-apa, ‘kan? Ga ada yang aneh-aneh, ‘kan?
Mbak Sifa kaya’ loe kali, parnoan..” ucap Dita.

Rani menelan ludah. Dengan nada bergetar, Rani tiba-tiba berkata,
“Eng.. Tapi koq bayangan item di dinding ada 3, ya?”

“RANI!” teriak Dita sambil langsung menoleh ke dinding yang sedang
ditunjuk oleh Rani.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *