Short Story #44: Di Depan Pintu

Nia menatap jendela apartemennya. Hening. Ia duduk sambil melihat
guliran air hujan di kaca jendelanya. Tapi, hatinya menerobos kaca.
Menuju gedung seberang. Sebuah apartemen yang kosong, sekosong
hatinya.

“Udahlah, biarin aja dia pergi. Toh, selama ini kamu juga cuma bisa
ngeliat dia dari balik jendela, ‘kan?” Emil, teman seapartemennya
memberitahu.

Nia tak menjawab. Pandangannya masih sama.

“Ga bagus lho kamu begini terus. Nanti sakit.” Emil menasehati.

“Iya, aku tahu. Tapi, aku masih penasaran aja sih.” jawab Nia pelan.

“Penasaran kenapa?”

“Penasaran…, apa sebenernya perasaan dia ke aku.”

“Oh..” ucap Emil pelan. “Mungkin aku tahu..”

Nia langsung menoleh. “Ohya?”

Emil mengangguk. “Iya. Karena aku pernah berada di posisi dia.”

“Maksudmu?” Nia mencondongkan diri ke arah Emil, meski keseluruhan
badannya masih mengarah jendela.

“Iya, jadi orang yang selalu dilihat lewat jendela, dan bukannya
dihampiri, diketuk pintunya, disapa, dikenali, didekati..”

“Aku masih ga ngerti.” ucap Nia.

“Singkat kata, aku pernah di posisi begitu. Dan mau tau apa perasaan
aku? Well, ga ada perasaan apa-apa..” jawab Emil datar.

“Tapi kamu kan cewek, dan dia yang asalnya di apartemen seberang itu
cowok. Beda.” Nia berargumen.

“Apapun.. Intinya, kalo kita terlalu sibuk menatap lewat jendela, dan
bukannya mencoba menghampirinya, mengetuk pintunya, mana kita tahu apa
perasaan dia ke kita? Ujung-ujungnya cuma bisa nebak-nebak, dan atau
gigit jari kalo tiba-tiba dia pergi..” jawab Emil panjang lebar.

“Aku ga gigit jari. Kedua tanganku kusilangkan di dada.” jawab Nia.

“Apapun..” Emil merespon.

Lalu hening. Nia dan Emil sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Tapi, ada kalanya dia yang kita tuju pun harus sedikit didorong.
Diingatkan. Diberitahu oleh beberapa tanda.” ucap Emil kemudian.

“Maksudmu?”

“Iya, saat kita terlalu asik melihat ke jendela, ada kalanya dia yang
kita lihat perlu diberi tanda agar lebih dulu menghampiri kita.
Mengetuk pintu kita duluan.” jawab Emil.

Nia menampakkan muka bingung.

Lalu, pintu apartemen terdengar diketuk. TOK! TOK!

Nia menatap Emil. Melemparkan pandangan bertanya.

“Dia di depan pintu?” tanya Nia pelan, yang langsung dijawab Emil
dengan mengangkat bahu.

Perlahan, walau tak yakin Nia menghampiri pintu depan apartemen. Ia
merasakan jantungnya berdebar. Penasaran. Berharap. Berdoa.

Dalam sekali gerakan, ia membuka kunci pintu. Lalu, perlahan ia
memutar kenop, dan menarik daun pintu sehingga terbuka sedikit.

“Hai Nia..” sapa pria di depan pintu.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *