Short Story #43: Jawabannya Sama

“Udah seminggu.” Miko berujar ke arah gadis di depannya, yang sedang
asyik menghabiskan semangkuk mie baso.

“Seminggu dari apa?” tanya Luna begitu ia selesai menelan sepotong bakso.

“Lupa?” Miko bertanya balik.

“Seminggu dari apa, sih?” tanya Luna lagi.

Miko menarik napas. Ia berusaha tetap menahan agar tak emosi, karena
ia juga ingin mendapatkan kepastian.

“Aku kan nembak kamu.. Lupa?” tanya Miko.

PLOK! Luna menepuk jidatnya sendiri. “Oiya, ya..! Eh tapi, udah
seminggu terus kenapa?”

Miko menarik napas lagi.

“Katanya mau jawab sekarang.. Aku tagih nih..” jawab Miko.

“Emang aku belom jawab, ya?” Luna bertanya lagi.

“Belom.”

“Masa’ sih?”

“Iya, belom.” nada suara Miko mulai terdengar senewen.

“Ooo…” ucap Luna sambil kembali menyantap makanannya.

“Jadinya, gimana?” Miko bertanya lagi.

“Apanya yang gimana?” Luna langsung merespon.

“Hhhh… Ya gimana jawabannya…” Miko kembali senewen.

“Oh.. Jawabannya…” Luna pun terdiam. Ia sedikit menunduk. Raut
mukanya berubah. Ragu, takut, dan tidak pede. Diam-diam, Miko pun
menyadari perubahan itu.

“Masih belom siap dengan jawabannya?” tanya Miko.

“Eng.. Aku boleh minta waktu lagi, ga?” Luna balik bertanya. Nada
suaranya terdengar ragu.

“Mau kapan?”

“Seminggu lagi?” tawar Luna.

“Emang, kalo seminggu lagi, jawabannya bakal beda? Atau jawabannya
belom ada?” Miko menyelidiki.

Luna terdiam. Ia sekejap menatap ke arah meja kantin. Lalu, ia menatap
Miko lagi.

“Jawabannya udah ada, sih.. Cuman ya…” jawab Luna pelan.

“Cuman apa?”

“Cuman… aku ga bisa didesek gini..” jawab Luna pelan.

“Lho, jawabannya udah ada. Kalo seminggu lagi emang bakal beda?”

Luna menggigit bibir bawahnya. Matanya berputar. Ragu.

“Jawabannya sama sih..”

“Ya jawab aja sekarang. Ngapain nunggu seminggu lagi kalo jawabannya
masih sama?” sergah Miko.

“Eng…..” Luna kemudian kehilangan kata-kata.

Miko menarik napas.

“Yaudah deh, ga usah dijawab aja.. Biarin aja perasaanku ke kamu ini..
Ga usah dipikirin..” Miko mengambil kesimpulan sambil hendak berdiri.

Luna buru-buru memegang tangan Miko sebelum ia pergi.

“Miko! Jawabannya iya, aku mau!”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *