Short Story #42: Pokoknya Harus Nurut!

“Mama ga mau tau, apapun putusan kamu, yang pasti harus nurut sama Mama.” kata Widya pada putrinya saat turun dari mobil.

“Tapi Ma, aku kan berhak juga dong buat milih.” elak Astrid sambil mengikuti ibunya turun dari mobil. “Apalagi, Astrid kan udah 17 tahun..”

“Waktu Mama dulu, biarpun umur 17 juga tetep aja nurut sama ibunya Mama.. ya nenek kamu itu..” balas Widya.

“Tapi Ma, aku juga boleh dong ngambil keputusan dan berhak ngejalanin sambil belajar dan nerima segala konsekuensinya.” Astrid masih saja mencoba mempertahankan pendapatnya.

“Oke, Mama ga ngelarang itu.. Tapi, Mama mau nanti pilihan kamu itu nurut sama Mama..” tambah Widya.

“Hah?”

“Iya, kamu denger kata Mama tadi, ‘kan? Dia harus nurut sama Mama. Ga bisa enggak.” ujar Widya sambil terus berjalan masuk ke dalam trade center.

Astrid yang sempat terdiam karena terkejut, langsung mengejar ibunya.

“Tapi kenapa harus, Ma? Dia kan pilihan Astrid, bukan pilihan Mama.” Astrid terus mencoba membujuk ibunya.

Sekarang, giliran Widya yang berhenti. Wajahnya yang kaku, ia hadapkan pada Astrid, putri bungsu kesayangannya.

“Astrid, gampangnya gini aja sekarang. Kalo kamu lagi ga di rumah, sementara dia ada di rumah dan ada Mama juga, Mama ga mau dia susah diatur.” Widya menjelaskan.

“Tapi Ma..”

“Setuju, atau kita ga jadi.” Widya mengancam.

Astrid diam. Ia mau tak mau terpaksa menurut pada ibunya.

“Nah, itu baru anak Mama. Sekarang yuk, kita udah deket.” ujar Widya sambil melangkah menuju salah satu tenant di trade center diikuti Astrid.

Seorang pria berwajah menawan menjumpai Widya dan Astrid. Ia shopkeeper di tenant tersebut.

“Selamat datang Ibu.. ada yang bisa saya bantu?” tanya pria tersebut.

Widya tersenyum kecil. “Iya Mas, saya mau cari anjing peliharaan buat Astrid, anak saya. Ada macam-macam jenisnya kan? Tolong cari yang gampang dilatih buat nurut ya Mas, nanti biar anak saya yang milih.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *