Short Story #38: Pasaran Naek

“Heh! Serius amat!?” Danu menepuk pundak Arif yang sedang tekun menatap monitor laptop di kubikelnya.

Sontak, Arif pun langsung berbalik dan menatap Danu.

“Wih! Yang abis ganti status, udah masuk kerja aja nih.. Gimana bulan madunya kemaren?” bukannya marah, Arif malah berdiri dan menyalami Danu.

“Ga seru.” jawab Danu singkat dengan wajah datar.

“Koq bisa?” tanya Arif dengan raut penasaran.

Danu menarik napas. “Iya, soalnya cuma seminggu. Kalo bulan madu tuh ya, harusnya sebulan gituh minimalnya.” jawab Danu sambil tertawa.

Arif ikut tertawa sambil menonjok pelan bahu Danu.

Dari seberang kubikel Arif, serta-merta Hans berdiri dan menatap tajam ke arah Arif dan Danu.

“Heh, jangan berisik! Kalo mau ngobrol seru, ajak-ajak napa?!” Hans berkata dengan nada suara cukup tinggi. Tapi kemudian, ia pun tersenyum.

“Ah elo Hans.” sungut Arif sambil tersenyum kecil.

“Anyway, gimana rasanya punya status baru?” tanya Hans.

“Yang pasti, belom biasa.” jawab Danu singkat. “Tapi, ada serunya juga sih.”

“Pasti soal ML nih..” celetuk Arif.

“Hus! Dasar otak mesum!” Danu merespon.

“Terus seru apaan?” Hans bertanya tak sabar.

Danu tersenyum kecil. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Serunya adalah, pasaran gue naek, brur.” ujar Danu.

“Lho, koq bisa?” Hans dan Arif bertanya nyaris berbarengan.

Danu tersenyum lagi. Kali ini, dengan tatapan mata usil.

“Jadi, singkat cerita gue lagi nunggu bini gue di resto hotel tempat nginep pas mau sarapan pagi. Gue dateng duluan gitu deh, sementara bini kan.. yah, kalian tau lah.. kecape’an..” Danu bercerita sambil disimak dengan khidmat oleh Arif dan Hans.

“Terus.. terus..?” Arif terlihat tak sabar.

“Ya.. lagi makan gitu, dan sebagian besar meja kan kosong tuh. Dan, ada satu meja yang cukup berjarak dari gue, ada satu cewek duduk sendiri di sana. Cakep, nilainya 8 setengah lah.. Macam Mariana Renata.” sambung Danu sedikit-sedikit.

Arif dan Hans terus menyimak. Tanpa Danu ketahui, diam-diam Arif dan Hans membayangkan cerita Danu di pikiran masing-masing.

“Pas gue kelar makan gitu, lagi ngopi-ngopi sambil baca koran gitu, eh.. tau-tau si cewek nyamperin gue. Dia berdiri di depan gue sambil bilang, ‘Hai, boleh duduk di sini?’. Langsung aja gue bilang deh, ‘Istri saya bentar lagi turun, Mbak.’ meski gue belum tau bini gue kapan bangunnya.” tambah Danu.

“Lah, ngapain loe bilang gitu? Itu kan rezeki.” Hans berkomentar.

“Iya, rezeki kok ditolak. Lagipula, dia ‘kan cuman mau duduk aja.” tambah Arif.

Danu geleng-geleng mendengar respon teman-temannya.

“Singkat cerita, itu cewek pun akhirnya pergi. Tapi sebelumnya, dia ga lupa ngasih nomer kamarnya ke gue. Tapi ya, kalian ga perlu berharap ada kelanjutannya. Karena gue lebih milih balik ke kamar, dan nyamperin bini.” Danu mengakhiri dengan senyum nyengir.

“Kirain, cerita serunya gimana gitu, taunya gitu doang.” celetuk Hans.

“Lah, newlywed macam gue sih ya, mendingan sama bini lah. Lagipula, sebenernya itu seru maksudnya adalah sejak merit gue lebih gampang dilirik cewek. Di resto itu doang tuh yang agresif, selaennya ada lagi di bandara sama pramugari-pramugari centil yang lirik-lirik, dan juga pas di bus pas tadi gue berangkat kerja.” Danu menjelaskan.

“Koq bisa? Padahal dulu kaya’nya loe jarang deh sampe dilirik gitu..” Arif mengingat-ingat.

“Faktor cincin nampaknya. Seperti pendapat yang bilang ‘cowok bercincin itu keliatan lebih menarik di mata cewek’. Pasaran naek gitu deh..” Danu menjelaskan.

“Ah masa?!” sergah Hans segera. “Gue udah pake cincin juga tapi koq ga bikin pasaran naek ya?”

Danu dan Arif segera memperhatikan Hans. Mencari-cari cincin yang dimaksud.

“Emang loe ada cincin kawin atau tunangan?” tanya Arif.

“Engga, tapi cincin warisan yang bertuah ini lho..” jawab Hans sambil menunjukkan jari kelingkingnya yang dilingkari cincin batu akik berwarna hijau tua dengan ukuran cukup besar.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *