Short Story #37: Another Order

Sudah hampir jam 3 pagi ketika Malik merampungkan verse terakhir lagu yang ia nyanyikan. Tak lama setelahnya, ketika musik fade out, tepuk tangan pun riuh terdengar. Sambil mengucapkan terima kasih, Malik tersenyum dan melambaikan tangannya. Tak lama, ia menyimpan microphone dan turun dari panggung.

Di samping panggung, Alfa manajer klab malam sudah menunggunya. Ia menjulurkan tangan yang langsung disambut oleh Malik.

“Another night has been conquered, bro! Great performance!” Alfa memuji Malik sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Let’s have a drink, on me.”

“Ga perlu gue jawab, loe udah tau jawabannya ‘kan?” ujar Malik sambil terus berjalan.

“Yah, kali-kali aja malem ini pikiran loe beda. Ga salah ‘kan gue coba dulu?” ujar Alfa.

“Yeah, nice try.” Malik berjalan ke meja bar sambil diikuti oleh Alfa.

Tanpa diminta, bartender mengambilkan jaket dan tas selempang Malik dari balik meja bar. Setelah mengucapkan terima kasih, Malik memakai jaketnya sambil masih didampingi Alfa di dekatnya.

“Kalo ga salah, loe begini semenjak sembuh sakit itu bukan, sih?” tanya Alfa.

Malik menatap Alfa, mengangguk kecil, dan kemudian selesai memakai jaketnya. Kini, ia mengambil tasnya dan menyelempangkannya di pundak.

“Cuma antara loe sama gue aja nih, sebenernya loe ada orderan laen, ya?” tanya Alfa sambil mendekati Malik.

Diam, Malik hanya tersenyum. Ia mendengus.

“Let say, you’re right. I have another order to do.” jawab Malik.

Alfa menarik badannya. Ia baru saja hendak tersenyum puas, ketika kemudian Malik berkata lagi.

“Tapi bukan order nyanyi, Fa. It’s another kind of order.” Malik menambahkan.

“Semacam dubbing atau recording back vocal? Emang ada studio yang bukanya segini pagi?” tanya Alfa.

Malik menyunggingkan bibirnya. Senyum yang menyimpan rahasia.

“I’ll tell you someday. Now, I got to go.” Malik membenarkan letak tas selempangnya, menepuk pundak Alfa, lalu pergi sambil membiarkan Alfa bertanya-tanya.

Malik pergi menutup pintu klab malam yang masih cukup ramai dengan pengunjung. Ia menghampiri motornya, memakai helm, dan menyalakannya. Yang terdengar selanjutnya hanyalah deru motor Malik membelah jalanan dini hari Jakarta.

Sekurang-kurangnya 30 menit kemudian Malik sudah berada di tempat tujuannya. Ia melepas jaket, dan helmnya sambil kemudian mengambil tas selempangnya. Sambil berjalan perlahan, ia membuka sleting tas dan mengeluarkan sebuah kemeja putih bersih dari dalamnya.

Perlahan, Malik membuka sepatunya. Sambil rehat sejenak, seorang pria menepuk pundaknya dari arah belakang.

“Masih sekitar 20 menit lagi. Duduk-duduk aja dulu.” ujar pria itu.

“Iya, ini juga lagi istirahat dulu. Ngadem bentar. Anginnya enak.” jawab Malik.

Pria itu kemudian pergi sambil membuka pintu. Ia menyalakan lampu, dan beberapa alat elektronik.

Sambil masih duduk-duduk di teras, Malik memakai kemeja putih bersih yang dirangkap dengan kaosnya. Tak lama, ia kemudian berjalan menuju salah satu pancuran air yang cukup dekat, dan mengalirkan airnya.

Malik membiarkan beberapa bagian tubuhnya disapa air. Sejuk. Menghilangkan segala keresahan.  Menghadirkan ketenangan.

Tanpa terasa, sudah 20 menit terlewati dan Malik pun beranjak mendekati microphone yang sudah disiapkan pria tadi. Sambil memastikan waktu, Malik menarik napas sambil mendekatkan mulutnya dengan microphone. Memastikan setiap suaranya nanti dapat ditangkap microphone untuk kemudian dilantangkan kembali.

Dan, Malik pun mengambil napas.

“Allahu Akbar.. Allahu akbar..!”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *