Short Story #364: Apa Adanya

“So this is it?” Amanda bertanya sambil memperhatikan Yudi yang sudah berada di dekat pintu.

“Sepertinya iya.” Yudi menjawab. “Kamu sendiri yang bilang ga ada jalan lain lagi.”

Amanda diam. Memperhatikan. Yudi sendiri masih diam, menunggu.

“After all these years…”

“Semua hal pasti berakhir.” Yudi menyelesaikan. Lalu bergerak mantap membuka kenop pintu.

“Aku berubah meski kamu ga pernah minta aku untuk begitu.” Amanda coba menahan.

“Aku tau.” Yudi menjawab tanpa membalikkan badannya. Daun pintu sudah sedikit terbuka. Siap mengantarkan Yudi keluar, dan tidak kembali lagi.

“Apa itu karena aku ga pernah minta kamu untuk berubah?”

“Sepertinya bukan itu.”

“Why didn’t you do it?” Amanda bertanya. “Kenapa kamu ga pernah minta aku untuk berubah?”

“Karena aku mencintaimu apa adanya. I love you just the way you are.” Yudi langsung menjawab. Kali ini berbalik. Menghadap Amanda yang masih duduk di kursi ruang tamu. “Dan aku berharap kamu melakukan hal yang sama.”

Amanda diam sejenak. Berpikir.

“Kenapa begitu?”

“Kenapa kamu nanya begitu?” Yudi balik bertanya.

“Karena banyak orang yang kukenal, berubah karena diminta oleh pasangannya.”

“Tapi mereka bahagia, ga?”

Amanda tidak langsung menjawab. “Ada yang iya.”

“Berarti ada juga yang ga bahagia, ‘kan.”

“Apa ini berarti yang penting aku bahagia?”

“Kalo ujung-ujungnya itu, kenapa engga?”

“Kenapa begitu?”

Kali ini Yudi yang tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dan melepaskan tangannya dari kenop pintu. Tapi… ia tidak beranjak dari posisinya, dan bahkan menempatkan sebelah kakinya mendekati sisi luar ambang pintu.

“Sejak pertama kali aku menyukaimu, mencintaimu sejak pertama kali, karena ya apa adanya kamu dengan caramu sendiri. Bukan karena aku memintamu untuk menjadi begitu.” Yudi memberitahu. “You are what you are. Bukan karena aku yang membuatmu jadi begitu sehingga kemudian aku jadi punya perasaan padamu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *