Short Story #343: Pelarian

“It’s our anniversary tomorrow.” Bruce memberitahu sambil menyodorkan segelas minuman beralkohol. “Apa yang paling lo inget dari kita?”

“Kita?” Mia meragukan ucapan Bruce, tapi tak ragu untuk mengambil minuman beralkohol darinya.

“Iya, kita. Emangnya kalo aku ngomongin anniversary, soal siapa lagi?” Bruce kembali bertanya, kali ini sambil menuangkan minuman beralkohol di gelasnya sendiri.

“Hmm…” Mia berpikir sejenak sambil meminum seteguk minumannya.

“Your free to pick any sweet, sour, or even bitter moments.”

“Oh.. baiklah.” Mia langsung merespon. “Paling kuingat adalah di hari saat kamu nyatain perasaan kamu ke aku.”

“Which one?”

“The second one.” Mia memberitahu. “Yang pertama kali ‘kan, kamu cuma bilang kalo kamu ada feeling. Ga spesifik.”

“Masa’?”

“Iya.”

“Bukan karena yang kedua itu karena aku baru putus dari Renata?”

“Justru karena itu.” Mia menjawab cepat. Lalu tersenyum geli.

“Hei.. kok kamu malah senyum-senyum? Emangnya lucu?” Bruce menyimpan gelasnya lalu berusaha menggelitik Mia.

“Ya lucu laaahh…” Mia menjawab.

“Kenapa?”

“Karena dulu kamu begitu mudahnya langsung nyatain perasaan kamu ke aku, padahal kamu baru-baru aja putus.” Mia memberitahu.

“Kamu pikir, aku cuma cari pelarian?”

“IYA!” Mia menjawab lantang lalu tertawa. Cukup keras sampai mengalahkan backsound musik romantis yang dipasang di ruang tamu mereka.

Bruce hendak ikut tertawa karena ia tahu bahwa itu menggelikan. Tapi, ia justru senyum-senyum kecil namun kecut.

“Aduh… kasian lelaki tampanku mesem-mesem…”

“Abis.. dipikir-pikir sekarang, aku berasa desperate banget ya kayanya waktu itu.” Bruce memberitahu.

“Nah, itu juga yang aku pikir!” Mia menyetujui. “Tapi kemudian, aku pikir juga kalo itu wajar. Masuk akal. Setiap orang pasti cari jaring penyelamat.”

“Trus kenapa kamu tolak?”

“Ya kan tadi kamu udah tau sendiri, aku ga mau jadi pelarian kamu.”

“Dan butuh beberapa kali kemudian aku nyatain perasaan aku, baru kamu mau nerima aku.”

“Ya.. boleh dong aku jual mahal.” Mia memberitahu lalu tertawa lagi.

“Ih, nyebelin!” Bruce kembali coba menggelitik Mia yang langsung menghindar.

“Tapi kamu tetep seneng ‘kan, karena akhirnya ya kita jadi begini…” Mia coba menenangkan.

Bruce diam berdiri. “Ya… okelah. Karena kamu jual mahal itu, aku jadi punya waktu buat sadar kalo kamu lebih berharga dari sekadar jadi pelarianku.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *