Short Story #342: Landasan

“Apa yang terjadi dengan ‘my door always open for you’?” Laksmi setengah berteriak dari luar di sela pintu apartemen yang setengah terbuka.

“Semuanya udah berubah sejak terakhir kali lo ke sini.” Wira memberitahu dari dalam apartemen. Sedikit jauh dari pintu agar Laksmi tak dapat melihatnya.

“Sejak kapan? Pas gue mabok itu?”

“Iya!” Wira balas setengah berteriak. “Lo pikir tempat gue kloset buat lo muntahin semua penyesalan lo?”

Laksmi kesal. Ia hendak memukul pintu apartemen Wira, tapi hati kecilnya menahannya. Karena yang dikatakan Wira ada benarnya.

“Oke.. I’m sorry for that.” Laksmi menurunkan nada suaranya. “Sekarang, boleh gue masuk?”

“Buat apa? Lo ada masalah lagi? Sama cowok brengsek mana lagi sekarang? Asal lo tau ya, ga semua cowok itu brengsek. Masih ada yang baek-baek mau nerima lo, tapi lonya aja yang ga nyadar.” Wira berkata. Masih berjarak dari pintu. “Atau lonya juga yang emang brengsek makanya cowok-cowok brengsek tertarik.”

“Eh jangan sembarangan lo!” Laksmi kembali kesal mendengar ucapan Wira. Ia lalu menendang-nendang pintu. Berharap salah satu tendangannya cukup kuat untuk kemudian membuka pintu. Tapi…

Laksmi kemudian berhenti. Ia lalu berlutut sementara kepalanya menempel ke pintu.

“Jangan setiap kali ada masalah lo selalu dateng ke gue, Laksmi. Emangnya gue keliatan seperti exit door yang selalu ngasih jalan keluar?”

Laksmi tak menjawab. Matanya mulai perih. Di sudut matanya mulai muncul butiran-butiran cair.

“Engga gitu, Wir…” suara Laksmi terdengar pelan. Lirih. “Setiap sama lo, gue justru selalu punya alasan untuk bangkit.”

“Emangnya lo pikir gue trampoline yang bisa lo jadiin landasan buat melenting tiap kali lo jatoh karena kehilangan pegangan?” Wira terdengar berteriak dari dalam apartemen.

Laksmi terisak di tengah berlututnya.

“Bukan… Lo justru landasan setiap pijakan gue…” Laksmi menjawab dengan suara membisik.

Beberapa saat kemudian, pintu apartemen terlihat menutup karena didorong dari dalam. Saat Laksmi mulai merasa putus asa dan bingung hendak mencari tempat lain untuk menenangkan dirinya, di saat itu pula terdengar pintu apartemen Wira mulai dibuka lebar.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *