Short Story #341: Mengaku

Sarah mengenakan jaketnya di foyer. Sambil sesekali melihat ke arah jalanan, ia kembali melihat ke arah pria yang duduk di kursi ruang tamu agak membelakanginya dengan selembar kertas di pegangan. Memahaminya.

“One last question, Lex..” Sarah memberitahu. Alex menoleh tanpa berdiri. “..Kenapa kamu berhenti minta aku buat minta maaf?”

“Kamu ngerasa itu perlu ga?” Alex langsung menjawab.

“Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan, please.” Sarah meminta. Menyibakkan sedikit rambutnya yang tertiup angin dari pintu.

“Oke.” Alex berdiri. Kertas tadi masih di pegangannya. “Karena aku pikir kamu ga ngerasa harus minta maaf.”

“Kenapa begitu?”

“Ya kamu sendirilah yang bisa jawab.”

“Maksudku, apa kamu punya perkiraan kenapa aku begitu?” Sarah mengencangkan sabuk jaketnya.

“Tentunya. Tapi banyak.” Alex memberitahu. “Banyak banget.”

“Salah satunya?”

“Hmm..” Alex memegang dagunya. Berpikir.

“Oke, yang menurut kamu paling pas?” Sarah kembali menunjukkan ketidaksabarannya, sama seperti yang selama ini ia lakukan selama berhubungan dengan Alex.

“Mungkin karena kamu ga sadar kalo kamu salah. Atau, kamu ga sadar kalo yang kamu lakuin itu bertentangan sama aku atau sama yang udah kamu ucapin sendiri.” Alex memberitahu.

Sarah diam. Coba mencerna.

“Bingung?”

“Engga. Aku ga bingung. Aku cuma ga tau harus komen apa.”

Alex diam. Memperhatikan. Seperti biasa, pembawaannya tetap tenang meski saat ini mungkin terakhir kalinya ia dan Sarah berada di ruangan yang sama hanya berdua.

“Trus, kalo udah gitu, harus gimana? Kamu memutuskan untuk stop ngingetin aku untuk minta maaf?” Sarah bertanya.

“Iya, itu salah satunya. Mempermudah dan mempercepat penyelesaian. Meskipun…”

“Apa?”

“Bisa jadi kamu ga belajar juga.” Alex memberitahu.

“Belajar apa?”

“Belajar kalo kamu ga selalu benar, dan orang lain ada benarnya dibanding kamu.”

Sarah diam. Menunggu. Bahasan-bahasan seperti ini yang selalu menariknya untuk berada bersama Alex. Tapi, itu tidak cukup.

“Buatku, mengakui kesalahan itu penting. Karena kalo kamu ga ngaku atau ga sadar juga kalo kamu salah, buat apa kamu minta maaf?” Alex melanjutkan.

Setelah mendengar kalimat terakhir dari Alex, Sarah hanya mengangguk pelan sambil alisnya berkerut. Berpikir. Tapi kemudian ia pun beranjak pergi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *