Short Story #34: Kangen

“Udah lama juga ya sejak terakhir kali..” Leni menatap Andre di depannya.

“Emang, ya?” Andre balik bertanya dengan nada datar. Nada tak peduli
tersirat di ucapannya.

“Iya Ndre, setaun ada kali.” ujar Leni.

“Hmm..” Andre menggumam. Memainkan bola matanya menatap langit-langit cafe.

Diam-diam Leni menatap Andre. Memperhatikan lelaki yang pernah ada di hatinya.

“Seingatku kamu dulu kurusan, Ndre. Sekarang gemukan, ya?” Leni
bertanya lagi. Basa-basi.

“Mungkin.”

Lalu hening lagi.

Kini giliran Leni yang menatap langit-langit cafe. Ia menatap aksesori
lampu yang masih sama sejak setahun yang lalu.

“Aksesori lampu ini yang selalu bikin aku inget sama cafe ini, Ndre.
Tiap lagi bengong gitu, tiba-tiba keinget aksesori ini, cafe ini, dan
juga… Kamu..” Leni bercerita.

Andre menelan ludah. Tapi ia berusaha tetap datar di depan Leni.

“Bukan kebetulan ‘kan kita ketemu lagi di sini setelah setahun?” tanya Leni.

Andre menghela napas. “Bukan. Tapi aku kebetulan saja memang hendak
kemari. Aku mau beli menu steak-nya. Mau kubawa pulang.”

“Kamu ga pernah bilang suka menu steak-nya Ndre. Ga pernah kalo lagi
sama aku makan di sini.”

“Well, beberapa bulan setelah kamu ambil keputusan buat pergi, aku
jadi suka menu steak-nya.” jawab Andre diplomatis.

Lalu hening.

Leni menatap ke arah meja, ke arah tangannya yang sedang menjulur ke
tengah meja. Sejenak, ia teringat dengan kebiasaan bersama Andre dulu,
saling berpegangan tangan di atas meja. Tak lepas, tak terpisahkan.

“Aku kangen pegangan tangan kita, Ndre. Di atas meja. Walau ada
makanan atau minuman, pasti tangan kita tetep pegangan walau cuma satu
aja.” kata Leni.

“Yeah.. Tapi aku lebih kangen pegangan tangan istriku, Len. Juga
cengkeraman kecil jemari anakku.” jawab Andre tegas.

Leni tercekat.

“Ini terakhir kalinya aku ke cafe ini Len. Good bye.”

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *