Short Story #331: From Where We Stand

Alex tidak tenang. Sejak sejam yang lalu ia sudah lebih dari lima kali mengecek jam tangannya. Perilaku yang tak pernah ia lakukan. Kalaupun ia mengecek jam tangan, tak pernah lebih cepat dari dua-tiga jam sekali.

Desain yang seharusnya ia kerjakan sesuai jadwal, tak bisa juga ia kerjakan. Fokusnya hilang entah ke mana, dan bukannya mencoba untuk mendapatkan fokusnya lagi, ia justru terpikirkan hal lain.

Gadis.

“Kalo aku lagi ga bisa fokus gini, biasanya Gadis tau trus tiba-tiba aja bikinin minum kalo lagi di deket aku. Pun juga kalo lagi jauh, somehow dia mendadak telepon…” Alex menggumam.

Saat ia hendak mencoba fokus lagi dengan mengambil pensil untuk mendesain, mendadak ia seperti mendapatkan pencerahan. Tak lama, ia sudah berada di jalan raya dengan sepeda motornya dengan helm dan jaket menuju stasiun.

Semula, meski berkendara dengan kecepatan maksimum, ia masih mengikuti setiap aturan lalu lintas. Lampu merah. Antrian. Belokan. Dan lain-lain. Tapi, di sebuah persimpangan, ia mendapati jalanan di depannya macet.

STUCK! Masih ada 30 menitan sih. Nunggu aja apa kali ya?

Saat sepertinya sudah mengambil keputusan, Alex justru berubah pikiran. Ia meminggirkan sepeda motornya lalu berlari. Berlari. Melalui trotoar samping jalanan yang macet. Berlari seperti atlit parkour. Berlari seperti copet yang ketahuan mencuri dompet. Sampai akhirnya, tempat tujuannya berdiri tegak di depannya.

Tak menunggu lama, Alex memasuki stasiun kereta dengan cemas. Berdebar. Ia tahu setiap milidetik berharga, maka ia tak boleh mengambil keputusan yang salah. Saat ia baru saja berpikir hendak bertanya ke bagian informasi atau meminta tolong ke bagian pengumuman, ia kemudian justru berbelok menuju loket dengan antrian terpendek untuk membeli tiket.

Hanya beberapa menit saja ia membeli tiket, dan langsung berlari menuju peron. Tanpa halangan berarti, ia bisa menuju ke peron karena arus penumpang datang dan turun dari kereta sudah lewat. Tapi…¬†saat tiba di peron dengan tiket terakhir yang bisa ia beli, tetap saja kereta yang ia kejar telah menutup pintu dan sudah mulai bergerak maju perlahan.

“GADIS!” Alex berteriak sambil mulai berlari mengejar gerbong. “GADIS! Kamu di mana?!”

Mata Alex awas mengamati setiap jendela gerbong yang bisa ia kejar dengan kecepatan larinya. Tapi laju kereta semakin cepat. Ketika Alex tiba di gerbong ketiga yang bisa ia kejar, ia tahu bahwa ia takkan bisa lebih jauh lagi.

Sambil memelankan larinya dan tetap awas mengamati jendela gerbong penumpang, Alex mengatur nafas. Rasa kecewa dan menyesal mulai muncul di hatinya. Kesal.

“GADIS! Jangan pergiiii..!!” Alex berteriak sekeras mungkin menyalurkan seluruh emosinya. Ia tak memedulikan segelintir orang tersisa di peron yang melihat aneh ke arahnya. Baginya, kehilangan Gadis sangat ia sesali.

Setelah gerbong terakhir lepas dari ujung peron, Alex seakan membeku. Pandangannya masih mengikuti ekor kereta yang mulai hilang di cakrawala. Kepalanya menggeleng.

Tapi.. di seberang peron…

“Alex!” Gadis memanggil.

Alex langsung menoleh ke arah panggilannya dan melihat Gadis tersenyum kecil sambil melihat ke arahnya. Tanpa berpikir lama, Alex pun langsung mencari jalan ke seberang peron, menghampiri Gadis lalu memeluknya.

“Aku nyesel. Aku berubah pikiran soal ga peduli kamu mau ngapain. Karena sebenernya, aku emang peduli.”

“Aku juga berubah pikiran. Ngubah dunia itu ga muluk-muluk harus pergi jauh-jauh.” Gadis merespon dalam pelukan. “We can change the world one thing at a time, right from where we stand.”

NB: Short story ini terinspirasi dari salah satu episode serial Madam Secretary

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *