Short Story #330: Layak

Felicia menepikan kendaraannya. Keraguan masih menyelimuti hatinya akan tindakannya hari ini. Ia hendak berpegang teguh pada komitmennya sejak beberapa tahun yang lalu, tapi… rasa penasarannya lebih kuat untuk mengarahkannya kembali ke jalan yang telah lama ia tinggalkan.

Sekeluar dari mobil, ia memakai kacamata hitamnya. Menoleh sekilas ke kanan dan kiri memastikan tiada kendaraan lewat untuk menyeberang sambil mengecek lingkungan. Tidak banyak yang berubah, simpulnya dalam hati. Begitupun juga dengan rumah yang kini berdiri teguh di depannya.

Felicia melihat-lihat sejenak dari trotoar ke arah rumah tersebut. Eksteriornya telah berubah warna sejak yang bisa ia ingat, beberapa elemen juga berubah, tapi sebagian besar masih sama seperti ingatannya. Ia bimbang, hendak melangkah maju tapi hatinya ragu. Ia sudah hendak berbalik ke mobil ketika pintu depan terbuka.

“Aku tahu suatu hari kamu pasti balik lagi.” sesosok pria bersandar ke ambang pintu.

“Hai…” Felicia hanya bisa menjawab singkat. Lidahnya kelu. Padahal tadinya banyak yang hendak ia ucapkan.

“You are always welcome here.” pria tersebut keluar ke teras, lalu duduk di kursi ayun gantung.

Kaki Felicia perlahan mendekat ke arah tangga teras meski benaknya coba untuk memerintahkan sebaliknya.

“Apa kabarmu, Sam?”

“Seperti yang bisa kamu liat.” Sam menjawab tenang. “Kamu? Ke sini dibawa angin atau nyasar?”

“Candaanmu masih sama aja ya, Sam.”

Meski awalnya berusaha untuk sinis, Sam pun tertawa dijawab seperti itu oleh Felicia. Melihatnya, Felicia seakan mendapat angin segar. Ia menambah langkah lagi hingga naik ke atas teras, tapi belum dekat dengan Sam.

“Seingatku, dulu kursi ayun itu ga ada.”

“Aku pasang sekitar setahun setelah kamu pergi.” Sam menjawab sambil menarik-narik rantai yang menggantung. “Kokoh sejak dipasang. Bertahan sampai sekarang.”

Dalam hatinya, Felicia tertohok oleh kalimat terakhir Sam. Ia tahu benar ketika Sam mengatakan sesuatu dengan pesan implisit. Perlahan, ia mundur.

“Pergi lagi?”

“Aku ga ke sini buat cari gara-gara, ya Sam. Ngeliat kamu dalam keadaan baik-baik saja, begitu juga dengan rumah ini, sudah cukup buatku.” Felicia kembali mundur.

“Begitu?”

“Don’t make me feel guilty again, please.” Felicia memohon dan hendak berbalik, ketika…

“Ayah, siapa tante itu?” tanya anak kecil berusia sekitar sepuluh tahun yang muncul dari ambang pintu.

Tatapan Felicia nanar ke arah anak kecil itu. Tenggorokannya tercekat padahal benaknya memerintahkan untuk mengeluarkan segenap suara dan kata-kata. Kakinya terasa goyah.

“Tantenya tertarik sama rumah kita, tapi dia udah mau pergi lagi. Kamu main lagi gih, di dalem.” Sam memberitahu yang langsung dituruti oleh anak kecil itu.

Felicia tak bisa lagi bertahan. Ia terduduk di tangga teras sambil menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.

“Di-dia… dia sembuh?” Felicia tergagap.

“Sempurna. Setelah 2 bulan penuh.”

“Ta-tapi… tapi..”

“Like I said, I’m not giving up on anything until God shows me otherwise.”

“Tapi dulu keliatannya ga semudah ucapanmu, Sam..”

“Dulu, padahal kamu tinggal percaya aja. Sama aku. Sama Tuhan.” Sam memberitahu. “Dan jangan kehilangan harapan.”

Felicia kehabisan kata-kata.

“Leaving is easy. Kamu bisa memulai sesuatu yang baru. Ditambah lagi, belajar dari pengalaman, atau kegagalan. But staying is not. It’s tough. Tapi aku bertahan untuk sesuatu yang memang layak aku perjuangkan.”

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *