Short Story #328: Buat Kita

“Ada cara yang lain lagi ga ya, supaya ini bisa berhasil?” Mara bertanya lirih. Suaranya hampir habis.

“I’m afraid, we’re running out.” Diego menjawab. “Kecuali kamu mau ke konselor.”

“Kamu tau sendiri gimana ga sukanya aku harus pergi ke orang yang cuma ngeliat dari luar dan ngasitau hal-hal yang udah aku tau.”

“Yaudah. Dead end, then.”

Lalu hening. Mara dan Diego larut dalam pikiran masing-masing. Seperti beberapa menit yang lalu. Seperti beberapa malam dan minggu yang lalu, sebelum Diego memintanya untuk melepaskannya, beberapa saat yang lalu.

“Kamu ga mau pikir-pikir lagi sama permintaan kamu tadi?” Mara bertanya lagi. Memastikan. Masih tak percaya.

“Udah aku pikirin baik-baik.” Diego memberitahu. “Dan supaya lebih gampang, semuanya udah aku urus.”

“Maksudnya?”

Diego menghembuskan nafasnya. Lalu menyandarkan ke sofa di depan Mara.

“Kita pisah baik-baik. Aku ga bakal nuntut apapun kecuali pergantian status. Semua yang pernah aku kasih, pernah aku beli, jadi punya kamu seutuhnya. Juga ga perlu takut soal tunjangan bulanan, karena bakal otomatis ditransfer dari bunga deposito atas nama aku.” Diego menjelaskan. “Deposito yang bisa kamu cairkan juga karena udah aku siapin nama kamu sebagai salah satu pemilik, suatu saat nanti kalo kamu udah ketemu orang lain.”

“Trus kamu?” Mara langsung bereaksi. Dia berharap dengan pertanyaan itu, Diego tahu bahwa Mara peduli, karena… Mara memang peduli.

“Yah..” Diego berhenti sejenak. “Aku masih punya beberapa simpanan atas nama aku yang pernah kubilang itu.”

“Tapi itu kan kamu bilang buat ngewujudin mimpi-mimpi kamu.”

“Well.. as you always said, things changed.”

“Tapi…”

Hening. Untuk kesekian kalinya.

“Udah clear, ya.”

“Kalo aku ga ngasih kamu pergi, emang kamu bakal tetep stay?” Mara langsung merespon.

“Kamu tau kan kalo ini juga berat buat aku.” Diego memberitahu.

“Tapi kasitau aku dong apa alasannya? Emang aku kurang seperti apa buat kamu? Supaya kamu stay, aku harus gimana? Aku mau ngelakuinnya..”

“It’s not about you. It’s about me.”

Mara diam. Menunggu.

“I feel like I’m not able to be a better person anymore. At some points of our lives together, I just stop and stuck there. I can’t move further.” Diego memberitahu.

“Tapi aku ga perlu kamu jadi lebih baik lagi, karena kamu sudah cukup baik buat aku.”

“Tapi cukup baik ga buat kita ke depannya?”

Mara tak bisa menjawab. Bahkan, ia tak bisa lagi mendengarkan kata-kata yang Diego ucapkan berikutnya. Termasuk ucapan perpisahan.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *