Short Story #325: Not Broken

“Sampai kapan kita mau begini?” Arya bertanya.

Gita, pasangannya yang tengah berada di sampingnya menoleh. Mengabaikan pemandangan langit malam yang tengah ia nikmati sedari tadi.

“Maksudnya?”

“Iya, begini. Seperti ini.”

“Kamu ga konkrit.” Gita berkomentar santai lalu menatap langit lagi.

“Hubungan kita, mau kapan seperti ini?” Arya meneruskan.

Gita diam sejenak. Angin malam berhembus. Kencang. Tipikal angin laut.

“Emangnya ada yang salah? Setauku ga ada.” Gita menjawab sambil coba meraih tangan Arya untuk dipeluk, tapi…

“Aku mau hubungan kita ke jenjang selanjutnya.” Arya sedikit menjaga jarak.

“Kenapa?”

“Karena sudah seharusnya.” Arya memberitahu.

“Lagi-lagi, kamu ga konkrit. Kalo kamu bilang karena umur, aku masih bisa paham.”

“Sejak kapan cinta harus konkrit? Kadang kan emang ga perlu rasio buat ngertiin sesuatu dalam sebuah hubungan?”

Gita diam kembali. Sudah lama sepertinya sejak terakhir kali ia memperbincangkan hal serius dengan Arya. Ia mengingat-ingat, terakhir kalinya adalah… saat ia setuju untuk menerima permintaan Arya menjadi¬†pasangannya.

“Tapi kamu tahu kan sejarahku tentang hubungan dan percintaan?”

“Justru karena aku tahu…” Arya menjawab. “Aku bisa saja bertekuk lutut sekarang juga untuk memintamu lagi, kali ini ke sebuah hubungan yang lebih serius. Tapi, kamu kan selalu penuh dengan pertimbangan dan juga perlu hal yang konkrit.”

Gita diam lagi. Ia tahu bahwa Arya benar. Tapi…

“Kenapa kamu ga pengen hubungan kita seperti ini aja? Nyaman, ‘kan? Nothing is wrong. Nothing is broken.”

“Just because something is not broken, doesn’t mean we don’t need to fix it.” Arya menjawab.

“In contrary, you don’t need to fix something that is not broken.” Gita merespon.

Lalu hening. Hanya terdengar deburan ombak malam yang dibelah oleh kapal pesiar.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *