Short Story #324: Rapuh

“Butuh waktu berapa lama lagi sampe lo bisa kaya’ dulu?” Rangga bertanya.

“Maksudnya?” Jacky menjawab bingung sambil menyimpan pensilnya ke meja gambar.

“Ya.. kaya’ dulu lagi. Excited. Energik. Hidup!” Rangga bertanya lagi sambil menyandarkan badannya ke sisi meja gambar Jacky.

“Eng.. emangnya sekarang gue ga hidup? Excited dan energik kaya’nya lebih ke persepsi pula, sih.” Jacky menjawab santai.

“Hhh…” Rangga menutup mukanya. “Lo berubah sejak jadi jomblo lagi, Jack.”

Jacky mengangkat alisnya sebelah. “Yaelah.. bahas itu lagi.”

“You are wasting time on your jomblo stats, Jack!” Rangga memberitahu sambil mengguncang-guncang pundak Jacky.

Jacky tersenyum. “Thanks bro. Somehow, kelebayan lo yang bikin gue nyadar kalo gue masih idup.”

“Siaaaaalll.. gue serius, inih!” Rangga gemas. “Lo mau gue kenalin ke cewek mana lagi? Anak kuliahan? Anak perpus? Geeky? Smart? Sensual? Bilang aja brooo..”

Jacky tertawa.

“Udahlah, Ga. Ga demen gue sama semua cewek yang lo kenal. Beda orientasi.”

“Maksudnya, orientasi lo udah bukan ke cewek lagi, tapi ke……” Rangga menyambar sambil diam-diam menjauh sedikit.

“WOY!” Jacky menebak yang di pikiran Rangga sambil kemudian menonjok bahunya. Untungnya, studio gambar sedang sepi saat itu, jadi teriakan kaget Rangga tidak mengganggu pengguna lainnya.

“Udah deh, ntar malem ikut gue, yak. Udah lama sejak terakhir kali lo ikut gue jalan kan?”

“Nope. Gue mau kelarin gambar ini dulu.” Jacky menolak dengan mengambil pensilnya lagi. Bersiap untuk kembali mendesain.

“Deadline-nya masih lama, bro.”

“I know. Tapi mayan lah buat ngisi waktu.”

“Nah nah.. bener kan, lo wasting time on your jomblo stats!” Rangga mengulang. “Mending cepetan cari cewek lagi deh sama gue.”

“Hahaha.. thanks but no thanks.” Jacky memberitahu sambil coba ambil posisi serius lagi.

“Ah.. lo ga asik ah.” Rangga mulai beranjak.

“Eh, Ga!” Jacky memanggil dan Rangga berhenti melihat ke arahnya. “Buat gue, nyari cewek itu kaya’ main bola, tau. Percuma aja nyerang dengan cara nyari mulu, kalo ternyata pertahanan alias hatinya masih rapuh.”

“Giling.. untung gue bukan cewek, kalo iya bisa udah kelepek-kelepek dah denger kalimat tadi.”

Lalu keduanya tertawa dan melanjutkan kegiatan masing-masing.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *