Short Story #321: Prioritas

“Udah dipanggil boarding, tuh.” Mae memberitahu sambil memainkan gelas kertas kopinya.

“Iya, aku juga denger.” Sarah menjawab dengan kalem. Ia melihat lagi ke arah arlojinya.

“Masih mau nungguin juga?” Mae mengulang pertanyaannya beberapa menit yang lalu.

“Kenapa engga?”

“Belum tentu dia dateng.” Mae berkomentar.

“Belum tentu juga dia ga dateng.” Sarah menjawab lagi, kali ini nada suaranya cukup naik.

“Ga ada kabar gini, kamu yakin dia mau dateng?” Mae sinis. Dengan santai ia membuang gelas kertas kopinya yang sudah kosong ke tempat sampah.

“Mungkin kejebak macet. Mungkin hapenya lowbat. Mung-”

“Mungkin dia ga sesayang itu sama kamu.” Mae memotong. Sarah terdiam. “Yasudlah, kalopun kamu ga boarding ya kamu yang rugi.”

Sarah tetap diam. Matanya mengarah ke arah pintu masuk gerbang. Masih berharap.

Beberapa langkah menjauh, Mae berhenti. Ia melihat ke arah Sarah, lalu berjalan kembali.

“Seharusnya kamu ga bikin seseorang jadi prioritasmu,┬ásementara dia hanya menganggap kamu sebagai pilihan.”

“Aku tahu.” Sarah menjawab tenang sambil menatap Mae yang berdiri di depannya.

“Lalu, kenapa kamu masih berharap?”

“Karena… aku tahu aku┬álebih baik.”

“Tapi dia tahu yang kamu tahu, ga?” Mae berkomentar lagi sambil kemudian berbalik dan meninggalkan Sarah yang masih duduk di kursinya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *