Short Story #319: Go

Olivia melihat arlojinya. Sudah jam tujuh malam lewat, pikirnya. Mau berapa lama lagi, masih di dalam pikirnya. Kopinya yang tadi hangat, kini sudah mendingin di meja kedai.

“Sori telat.” suara yang dikenalnya muncul dari arah belakangnya.

“Beberapa menit lagi aku tinggal.” Olivia menjawab dingin sambil menatap Jose yang menarik kursi di depannya.

“Jangan gitu, dong.” Jose menjawab sambil menyimpan tas punggungnya ke lantai di dekat kakinya.

“Kamu cuma bawa segitu doang?” Olivia menatap tak percaya.

“Iya. Kenapa?” Jose menjawab santai.

“Kita bakal pergi ke sebuah tempat yang mungkin cuma bisa kita kunjungin sekali seumur hidup, dan kamu cuma bawa pakaian setas punggung itu aja?” Olivia mengulang pertanyaannya.

“Iya. Kenapa emangnya?” Jose mengulang juga.

Olivia menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.

“Aku aja bawa satu koper gede pas limit bagasi, satu koper ukuran kabin, dan tas tenteng.” Olivia memberitahu. “Padahal, aku bukan tipikal cewek-cewek yang begitu.”

“Lah makanya, biasanya juga kamu cuma bawa maks dua tas aja kan? Tas punggung yang muat di kabin kaya’ aku, dan juga tas tenteng?”

“Stop it. We’re not talking about me.”

“Oke.. oke..”

“Trus, kamu beneran cuma bawa segitu aja?” Olivia kembali bertanya.

“Aku nyadar nanti kita bakal banyak jalan. Bakal banyak liat sana-sini. So, I’m travelling lite and fast.” Jose menjelaskan.

“We’re not travelling fast, you know. We’re travelling far.”

“Iya, aku tahu.”

“Dan kamu tahu apa kata pepatah soal itu? If you want to go fast, you go alone. But if you want to go far, you go together.” Olivia berkata sambil kemudian berdiri lalu beranjak ke gate keberangkatan meninggalkan Jose yang kebingungan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *