Short Story #317: To Be Happy

“Hei… Let me guess… Kopi hitam pekat?” Sutan menyapa Ria di dapur kecil kantor mereka.

“You know me so well.” Ria menjawab sambil tersenyum kecil.

“Hahaha.. Lucky guess mungkin.” Sutan merendah. “Setelah beberapa kali aku salah menerka.”

“That’s what I mean.”

“Btw, Lala kok udah masuk aja, ya?” Sutan bertanya. “Tadi aku liat dia udah ada di mejanya pas lewat kemari. Belom sempet nyapa sih, tapi.”

“Well, harusnya gimana?” Ria balik bertanya sambil melongok ke arah meja Lala yang terlihat dari dapur kecil, lalu kembali lagi.

“Dunno.. Mungkin besok atau lusa baru masuk?” Sutan menebak lagi sambil menyiapkan minuman kopi untuknya.

“Ah.. mungkin dia kalo ga ada kegiatan produktif, malah nanti keingetan lagi.” Ria menyesap kopinya lagi. “Well, at least that’s me.”

“Make sense.” Sutan berkomentar. “Lagipula, ga ada gunanya juga terus sedih, kan ya?”

“Precisely.” Ria menjawab. “Atau mungkin emang dia cewek yang kuat.”

“Maksudnya?”

“Ya, tadi pas aku intip setelah kamu bilang, dia ga keliatan udah ngalamin kejadian kemarin itu. Bahkan kaya’ ga ada apa-apa.” Ria memberitahu. “She’s smiling! Padahal aku yakin dia sebenernya masih sedih banget. Jauh dari hepi.”

“Well.. you don’t need to be happy to smile. In fact, smile then you’ll be happy.” Sutan menjawab sambil membawa kopinya keluar dari dapur kecil kantor.

2 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *