Short Story #313: Alasan Mengingat

Franky melihat arlojinya. Tak hanya sekadar melihat waktu, tapi juga memastikan. Sekaligus mengharapkan.

Sambil melihat sekeliling yang ramai dengan turis seperti dirinya, Franky berjalan ke salah satu sudut yang terlindungi bayang-bayang. Meski terletak di belahan utara, namun ada kalanya Paris pada saat musim panas juga memiliki suhu yang cukup panas. Setidaknya, itu yang ia rasakan.

Ia baru saja merasakan ademnya di balik bayang-bayang ketika sudut matanya melihat sosok yang sudah lama tak ia temui. Seketika itu pula jantungnya berdesir. Seketika itu pula ternyata sosok tersebut melihat ke arahnya, berjalan ke arahnya.

“I couldn’t believe my eyes.” Vonny┬ámengomentari. “Ternyata ini beneran kamu, Frank!”

“Well, siapa lagi?” Franky menjawab. Lalu mereka berpelukan.

“Udah lama?”

“Nope, baru sampe.”

“Baru sampe hari ini di Paris langsung kemari?”

“Well.. ga gitu juga sih. Udah dari beberapa hari lalu, cuman baru sekarang aku ke Eiffel.”

Vonny diam sejenak. Seperti hendak memastikan. Tapi….

“Aku lagi ada keperluan terkait kerjaan ke sini.” Franky menjelaskan lebih lanjut, merespon raut muka Vonny.

“Oh…” Vonny menjawab singkat. Ia sebenarnya bingung hendak menjawab kagum atau bingung. Tapi kemudian… “Kita jalan keliling, yuk!”

Franky mengiyakan dengan langsung berjalan mendampingi Vonny yang lebih dulu beranjak.

“Gimana desainmu? Makin mahir?” Franky bertanya.

“Well.. yang pasti aku belum punya brand sendiri, kalo kamu ingat mimpiku dulu.”

“Jelas aku ingat. Itu masih seperti kemaren.”

Seperti kemarin… kalimat terakhir tersebut menggema di dalam hati Vonny.

“..Tapi aku udah mendingan lah dibanding sebelum berangkat dulu. Sekarang aku udah ikut beberapa show meski belum pake nama sendiri – masih pake nama corporate.”

“Mungkin kalo kamu pulang kelak ke Indonesia, kamu bisa mulai brand kamu sendiri.”

“Iya.. mungkin…” jawab Vonny sambil kemudian berhenti, lalu melihat Eiffel. Jauh ke atas. “Isn’t she beautiful?”

“Yes, she is.” Franky menjawab setelah diam sejenak. Tapi yang ia lihat adalah Vonny, bukan Eiffel.

Tepat di saat Vonny kembali melihat Franky, di saat itu pula ia memalingkan muka ke arah jalanan. Lalu, mereka kembali berjalan. Hening.

“Why are you here?” Vonny akhirnya bertanya meski ia sebenarnya tak berani bertanya.

Franky berhenti melangkah. “Aku masih ingat ucapanmu dulu. Tentang Paris. Tentang Eiffel.”

“Tapi kenapa sekarang?”

“Karena seperti ucapanmu, kamu berharap kita bertemu di Eiffel. Tepat sekarang.”

Vonny diam sejenak. Ia bingung.

“Why do you remember? Bahkan aku sudah lupa persisnya.” Vonny akhirnya berkata.

“Karena aku tak punya alasan untuk tak mengingatnya.”

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *