Short Story #31: 5 Tahun Lagi

“Jadi nembak, nih?” tanya Guntur.

“Jadi, dong! Ga ada kata mundur dalam kamus gue!” jawab Ilham berapi-api.

“Sip, gue udah ga sabar pengen makan gratis sepulang nanti..” Riri
nimbrung sambil mengusap-usap perutnya.

“Eits, jangan sok yakin dulu loe. Kalo gue diterima, bisa jadi loe
pada yang nraktir gue..” sergah Ilham.

“Halah, buktiin aja dulu deh, Ham..” sahut Guntur sambil menepuk pundak Ilham.

Baru saja Ilham hendak balas menepuk, ketika incarannya terlihat. Iya,
perempuan yang akan ia tembak kini sudah ada di jangkauan tatapan
mereka bertiga.

“Tuh, dia udah masuk lapangan tuh!” Riri menunjuk.

“Iyeee.. Gue juga tauuu..” jawab Ilham sambil langsung menyiapkan
seikat bunga, dan sekotak cokelat.

“Cakep bener yak tiap kali pake baju olahraga. Gue jadi pengennya
belajar olahraga mulu dah tiap hari..” Guntur mengkhayal.

“Heh, kalo dia nerima gue, ga bakal bisa loe ngekhayal gitu..” Ilham memotong.

“Halah! Cepet sana tembaaakk!! Ngemeng doang loe ah, lama-lama!” Riri
mendorong Ilham dengan gemas.

Dengan hati dag-dig-dug, Ilham berlari melintasi lapangan belakang
sekolah. Ia menempatkan kotak cokelat dan seikat bunga di belakang
punggungnya.

Beberapa sorakan pelan dan juga tatapan mata heran, mengiringi langkah
Ilham mendekat pada perempuan pujaan hatinya.

“Bu Astri..” panggil Ilham.

“Iya Ilham. Ada apa? Oiya, jangan panggil aku pake, Ibu dong. Aku kan
cuma beda lima taunan sama kamu..” jawab Astri.

Wajah Ilham seketika berwarna semu merah. “Eh..oh.. Iya, Astri..”
gagap Ilham. “Nganu, boleh ngucapin sesuatu, ga?”

Astri yang tengah menyiapkan materi olahraga, langsung memerhatikan
Ilham. Melihat tangan Ilham yang berada di belakang punggung, ia mulai
sedikit menerka. Sekilas, ia tersenyum kecil.

“Ada apa?”

“Saya suka sama kamu. Mau ga jadi pacar saya?” ucap Ilham segera.
Sengaja, agar tidak terbata-bata dan terdengar mantap, meski suaranya
bergetar. Seikat bunga dan sekotak cokelat ia sodorkan ke arah Astri.

Tanpa diketahui Ilham, teman-teman sekelasnya sudah berada di
sekitarnya. Dan, mereka pun langsung bersorak.

“Cieeee…”

Astri diam. Ia tak terkejut mendengar ucapan Ilham. Ia justru
tersenyum. Kontan saja, Ilham serasa mendapat angin.

Astri berjalan mendekati Ilham. Ia mengambil bunganya, tapi tidak cokelatnya.

“Terima kasih bunganya ya Ilham. Tapi cokelatnya mending kamu kasih ke
temen-temen kamu aja..” ucap Astri sambil tersenyum.

Ilham seketika kehilangan angin. Kering. Senyumnya hambar.

“Walau umurku dan kamu ga beda jauh, tapi baiknya tunggu dulu ya..
Mungkin nanti, baru aku bisa jadi pacar kamu.” ucap Astri.

Patah hati, semangat, dan juga tengsin. Itu yang Ilham rasakan. Tapi,
ia tak kehabisan akal.

“Nantinya berapa lama lagi?” tanya Ilham sebelum Astri pergi.

“Yah..kira-kira lima taunan lagi deh ya.. Kalo kamu udah selesai
kuliah..” jawab Astri ringan, sambil kemudian tersenyum.

4 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *