Short Story #308: Never Alive, Never Die

“Jadi, siapa dia?” Elsa langsung bertanya meski Aline baru masuk kedai kopi & belum juga duduk.

“Siapa?” Aline pura-pura tidak tahu sambil menaruh jaketnya lalu duduk di kursi seberang Aline.

“Ya ituu.. yang tadi nganterin kamu sampe depan teras kedai ini.” Elsa memburu.

“Ah.. kamu liat aja lagi.” Aline menjawab.

“Hey, kamu belum menjawab pertanyaanku!”

“Oke…oke… abis pesen minum aku jawab, ya.” Aline berdalih sambil langsung pergi untuk memesan minum.

Sekitar sepuluh menit kemudian, Aline sudah kembali dengan segelas kopi campur hangat dan cemilan kecil.

“Siapa?”

“Yaampun, duduk dulu lah…” Aline kembali bermanuver sambil duduk.

“Aku penasaran, soalnya udah saatnya, tau.”

“Udah saatnya apa?”

“Kamu, move on.” Elsa memberitahu.

“Yaelah…” Aline menjawab santai.

“Dan lagi-lagi kamu belum juga bilang siapa dia tadi.”

“Oke.. oke…” Aline menelan makanan ringan & seteguk kopinya. “Dia temen.”

“Temen kerja? Temen main? Temen ngobrol? Atau temen tidur?”

“HUS!” Aline langsung memotong.

“Ya abis, ga deskriptif sih. Ga tau apa kalo aku haus apdet.”

“Apdet apa gosip?”

“Apdet.. apdet…” Elsa membela diri. “Jadi, temen apa? Siapa namanya? Kerja di mana? Ketemu di mana? Gimana ceritanya?”

Aline menatap teman lamanya tersebut dengan mata membelalak lalu tersenyum kecil.

“Namanya Jaka, kenalan di kereta beberapa waktu yang lalu. Ga sengaja kenal karena dia kasih duduk aku pas lagi bawa barang banyak. Eh ga taunya turun di stasiun yang samaan sama arah aku kerja.”

“Klasik.” Elsa berkomentar. “Kerja atau kuliah?”

“Lagi lanjut Master sih katanya dia, dan ga kerja kantoran tapi freelance gitu.”

“Trus?”

“Trus apa?”

“Ya gimana sekarang? Status! Status!”

Aline diam sejenak, dia sengaja memberi jeda untuk membuat Elsa penasaran.

“Dia single sih.”

“Meski itu kabar bagus, tapi bukan itu maksudku!” Elsa menggedor meja sampai menimbulkan suara cukup kencang dan beberapa pengunjung di meja dekatnya sampai menoleh.

“Aku yang jalanin, kok kamu yang excited gini..” Aline berkomentar sambil kemudian tertawa kecil.

“Kan tadi udah aku bilang, sudah saatnya kamu move on.”

“Oke..oke.. makasih atas perhatianmu, ya.” Aline memberitahu.

“Trus? Gimana?”

“Ya… sekarang sih lagi jalan bareng aja dulu. Belum ada keterangan siapa pacar siapa, atau ngasitau gimana perasaan masing-masing.”

“Tapi kamu sendiri gimana?”

Aline diam sejenak. Wajahnya berubah agak serius.

“Aku sih belum ada perasaan, ya. Well… you know lah. Jaga-jaga.”

Elsa mengangguk tanda mengerti. “Move on memang harus bertahap sih, membuka hati untuk perasaan yang baru memang biasanya yang terakhir.”

“Betuls…” Aline menyetujui. “Sama kaya’ frase ‘those who live, shall die. But those whose never alive, shall never die.’”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *