Short Story #307: The One Who Never Leaves

Farina menggigit bibir bawahnya berulang kali sejak beberapa menit yang lalu. Bingung. Gelisah.

“Susah milihnya?” Yusuf bertanya sambil berjalan dari dalam rumah dan memegang segelas air minum dingin.

“Aku sayang keduanya.” Farina memberitahu.

“Ya tapi kamu ga bisa dong hidup terus sama keduanya.” Yusuf memberitahu. “Biar gimanapun, kamu bakal tetep harus milih salah satu, karena satu perempuan hanya untuk satu lelaki….”

“..Pada suatu waktu.” Farina melanjutkan.

“Hey, we’re not talking about me, okay.” Yusuf langsung menyela.

“Oke Pap, sorry.” Farina kembali larut dalam pikirannya yang sedang bingung hendak memilih siapa.

“Udah kamu pertimbangkan apa tuh kalo kata eyangmu, bibit-bebet-bobot?”

“Yaelah Pap, oldskul banget.” Farina berkomentar. “Tapi udah sih.”

“Nah kan..” Yusuf merespon. “Trus gimana?”

“Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, sih terkait bibit-bebet-bobot itu.”

“Trus jadinya skornya imbang?”

Farina mengangguk.

“Pasti ada salah satu yang lebih baik.”

“Atau aku harus milihnya bukan yang terbaik melainkan yang salahnya lebih sedikit?”

“Mungkin.” jawaban Yusuf otomatis makin membuat Farina bingung.

“Dan aku makin bingung lho ini, Pap.” Farina memberitahu. “Aku jadi penasaran dulu, Mam gimana ya waktu ambil putusan mau sama Pap?”

“Nanti kalo ketemu dia lagi, kamu tanya, ya.” Yusuf menjawab. “Lagi-lagi, we’re not talking about me.”

Angin bertiup pelan di teras rumah Yusuf dan Farina yang menghadap lembah kota. Sejuk.

“So, how should I pick the right one from both of them?” Farina bertanya. “Aku ga mau jawaban yang harus percaya sama hati kecil, ya..”

Yusuf menarik napas sebelum menjawab. “Pick the one who never leaves you.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *