Short Story #306: Miss Me

Sebuah nama di aplikasi percakapan terlihat mulai menyala. Sonny. Teresia mengenal nama itu. Tak menunggu lama baginya untuk mengeklik dan membuka jendela percakapan baru.

“It’s been a while…” Teresia membuka percakapan.

“Yups.” Jawab Sony singkat.

“Masih winter atau udah masuk spring?”

“Cuacanya sih masih winter, tapi harusnya within a week the spring will start.”

“Es mulai mencair, dong.”

“Yeah, sort of.”

Teresia kemudian terdiam karena teringat betapa ia dan Sonny kerap menghabiskan sore hari hanya membahas tentang cuaca hari itu, ramalan cuaca di hari esok, sampai dengan fenomena cuaca di tempat lain di dunia.

“Gimana tempatmu? Panas seperti biasa?”

“Nope. Kemarin hujan.” Teresia memberitahu.

“Kinda miss it.”

“Hujan?”

“Nope. Panasnya.” Sonny menjawab.

“Aku justru kangen suasana empat musim.”

Teresia melihat Sonny seperti sedang mengetik, lalu… berhenti. Menghilang.

“When will you come back?”

“Ga mungkin aku balik lagi. Udah kelar semua, ‘kan.”

“Yeah.. I know.. .It’s just….”

Sonny terlihat sedang mengetik lagi, lalu…. Berhenti. Lagi. Menghilang seperti asa yang sempat tumbuh walau kecil di hati Teresia.

“Do you miss me?” Teresia bertanya. Memastikan.

Lama Sonny tak menjawab. Teresia berdebar-debar menunggu. Ia tak berharap kejutan. Ia berharap jawaban Sonny sesuai keinginannya.

“I do.” Sonny menjawab singkat.

Senyuman mengembang di paras jelita Teresia, tapi… ia masih hendak memastikan jika Sonny benar-benar merindukannya.

“How do you miss me? Is it how I talk to you, how I share anything to you, or how I give you the best night ever?”

Sonny terlihat sedang mengetik. Tapi kemudian hilang. Berhenti.

Teresia sesaat merasakan jika ia salah mengetik, terlalu frontal. Baru saja ia hendak mengetik kembali ketika jawaban dari Sonny muncul…

“I miss the way I feel when I’m with you.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *