Short Story #299: Alasan Bangun Pagi

“Bangun, udah pagi.” Roman membangunkan Jenny, istrinya yang masih terlelap.

Sambil masih malas membuka mata, Jenny menarik selimutnya lagi berusaha untuk kembali terlelap.

“Ayo, bangun.” Roman mengingatkan.

“Masih jam lima lho ini.” Jenny mengintip ke jam dinding kamarnya.

“Dan sejam lagi Lilly harus udah berangkat sekolah.” Roman menjawab sambil mengenakan kausnya.

“Kamu ini yang nganterin, bukan aku.” Jenny menjawab malas sambil menelungkupkan dirinya dan ditutupi selimut. Tapi…

“Ayo bangun dulu, deh. Kamu kan dari bangun pagi sampe kemudian beneran bangun butuh waktu lama.” Roman menarik selimut.

“Iiihh.. benci deh kalo kamu begitu.” Jenny sekalian menendang selimutnya sampai jatuh.

“Ya makanya, ayo bangun. Ga rugi lho, bangun pagi.”

“Tapi kan semalem aku tidur udah larut.”

“Bukan alasan.”

“Huuhh…” Jenny malas-malasan coba membuka matanya agar kantuknya hilang meski masih berbaring.

“Awas, jangan tidur lagi lho ya.” Roman kembali mengingatkan sambil menuju pintu kamar.

“Mau ke mana?”

“Bangunin Lilly, trus siapin sarapan buat dia.”

“Kan ada si mbok… Kamu sini aja dulu, temenin aku… pastiin aku ga tidur lagi.”

“Hhh.. manjanya keluar deh.” Roman tetap berdiri dekat pintu.

“Ayo… sini… Masa’ aku perlu buka baju dulu supaya kamu mau mendekat?” Jenny menggoda.

“Kamu buka baju lebih bagus, jadi lebih gampang aku seret ke kamar mandi buat bersih-bersih.”

“IIIHH!” Jenny gemas.

“Udah, bangun ya. Aku bangunin Jenny dulu.”

“Kenapa sih, kamu harus selalu bangun pagi dan juga bangunin aku sebelum Jenny?”

Roman terdiam sejenak dengan setengah pintu kamar yang terbuka.

“Karena aku suka anak-anakku ketemu dengan kedua orangtuanya sebelum dia berangkat sekolah. Sedikit banyak, hal itu akan terus dia ingat sampai besar kalo orangtuanya selalu ada setiap kali dia mau ngelakuin sesuatu, dan pastinya sesuatu yang baik dan berguna buat dirinya.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *