Short Story #296: Kebahagiaan

“Kebutuhan dan keinginan, pilih mana?” Lyla melempar pertanyaan pada Harun.

“Jelas kebutuhan.” Harun menjawab santai.

“Kepuasan hati atau pikiran?” Lyla melempar pertanyaan lagi.

“Aku cenderung kepuasan pikiran.”

“Ego atau rendah hati?”

“Pertanyaan sulit, aku masih setengah-setengah terhadap keduanya.”

“Okay.” Lyla merespon sambil kembali membaca tabloid yang tengah dibacanya di sela-sela pekerjaan kantor.

“Kenapa kamu nanya gitu?” Harun yang sudah disela pekerjaannya, penasaran.

“Pengen tau aja.”

“Efek baca artikel koran nih, pasti.”

“Bisa dibilang gitu.” Lyla menjawab tanpa menurunkan pandangannya dari tabloid.

“Apa sih judulnya?”

“Prioritas dalam kehidupan.” Lyla menjawab cepat sambil membalikkan artikel yang tengah dibacanya pada Harun, lalu membaliknya lagi.

“Tumben bacaanmu berat.”

“Sesekali, perlu.”

“Kenapa?”

Lyla diam sejenak sebelum menjawab. “Yah, kepikiran aja sama aku, apa ya prioritasku dalam hidup? Apa yang harus aku kerjain? Apa yang harus aku pilih? Dan kenapa aku mau ngelakuin semua itu?”

“Trus, jawabannya?”

“Well, happiness is my priority.  The one and only. Kalo ada prioritas yang lain, itu efek samping untuk mewujudkan prioritasku itu.”

“Hmm…”

“Kenapa?”

“Gapapa. Aku cuma lagi mikir aja.”

“Mikir apa? Prioritas kamu? Emang apa?”

“Sepertinya happiness buatku adalah prioritas nomer dua.”

“Kamu rela ga happy demi prioritas yang pertama?”

“Iya.”

“Emang apa prioritasmu yang pertama?”

“Pastiin kamu ngewujudin prioritas kamu.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *