Short Story #293: Dendam

“Jadi, begini akhirnya?” Marriella bertanya sambil memperhatikan lelaki di depannya siap membuka pintu dan pergi.

“Aku sebenarnya mendambakan akhir yang lain.” Aldo menjawab tenang tanpa berbalik. Tangannya sudah di pegangan pintu.

“Trus, kenapa ga bisa seperti itu?” Marriella bertanya lagi. Kali ini sambil berganti posisi duduknya di sofa.

“Karena sudah kelewat masanya.” Aldo menjawab lagi.

Lalu hening. Marriella seperti sedang berpikir. Aldo menunggu, menantikan kalimat lainnya, tapi tak ada. Ia lalu memutar kenop pintu dengan menggenapkan keyakinan di hatinya bahwa itu yang terbaik. Tapi…

“You’re the best thing happened in my life.”

“Trus kenapa kamu sia-siakan?” Aldo berbalik dan menatap Marriella. Ia setengah terkejut, karena mendapati Marriella sudah berlinang air mata di pipinya. Hatinya menyuruhnya untuk bergerak, mendekati, tapi…

“Aku khilaf.”

“Trus?”

Aldo menunggu. Menantikan sebuah kata singkat yang pernah ia utarakan tak perlu diucapkan di antara hubungannya dengan Marriella. Menantikan sebuah penyesalan. Menantikan sebuah permohonan.

“I gave you my trust.” Aldo memberitahu.

“Kalo gitu, bisakah kamu mempercayaiku lagi?” Marriella memohon. “Could you please trust me again, believing that I’m changing? That I have changed ever since?”

Giliran Aldo yang diam. Genggaman tangannya pada kenop pintu semakin erat. Geram. Sedih. Bercampur.

“Supaya kamu tau, aku mempercayaimu sepenuhnya. Seluruh diri kukerahkan untuk mempercayaimu.” Aldo memberitahu. “Tapi itu salah.”

“Kenapa?” suara Marriella serak.

“Karena ketika kepercayaan itu disalahgunakan, maka tak ada lagi yang tersisa selain dendam.”

Isakan tangis pelan terdengar dari balik pintu yang tertutup ketika Aldo melangkahkan kakinya pergi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *