Short Story #292: Dianggap Mati

“Dunia itu luas.” Haikal memberitahu.

“Iya. Aku tahu.” Alvin menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tas ransel yang sedari tadi ia siapkan. “Itu sebabnya aku pergi.”

“Maksudku bilang dunia itu luas, artinya masih banyak orang yang bisa kamu temui meski ga harus pergi.”

“Iya. Aku tau.” Alvin menjawab. “Tapi sepertinya aku lebih perlu ketemu orang dengan pergi dari tempatku sekarang.”

“Aku ga ngerti sama cara pikirmu.” Haikal hendak beranjak dari posisinya yang bersandar di kusen pintu.

“Ga usah ngerti, ‘Kal.” Alvin memberitahu sambil menyelesaikan persiapan tas ranselnya. “Kamu cukup ngerti aja kalo aku pergi sekarang, suatu saat mungkin aku balik. Itu aja cukup.”

“Sakitnya dalem banget, ya?”

“Cuma dua pilihan utama orang yang ditinggal merit sama pasangannya: mati, atau dianggap mati.” Alvin menjelaskan. “Dan buatku, lebih baik aku dianggap mati, toh? Baik itu olehnya maupun juga diriku sendiri.”

“Kusut pikiranmu.” Haikal berkomentar.

“Intinya, aku ga mau ke mana aku pergi masih ngeliat hal-hal yang ngaitin sama dia. Dan aku juga tentunya ga mau ke mana dia pergi justru ngeliat hal-hal yang masih ngaitin sama aku.”

“Kalo kelak… ke manapun kamu pergi nanti.. kapanpun itu… mendadak ketemu dia lagi di sana, gimana?”

“Aku ga mau berpikir ke sana.” Alvin menjawab. “Yang jadi fokusku saat ini adalah, gimana caranya aku bisa ngerasa lebih baik.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *