Short Story #291: Justru Itu

“Kenapa kamu milih dia? Liat deh baik-baik.” Cholil penasaran.

“Ga perlu aku jawab.” Juwita menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari antrian di depannya.

“Ya dipikir-pikir, emang ga enak diliat juga, sih.” Cholil melanjutkan dengan nada sinis.

Juwita justru langsung menoleh ke arah Cholil dengan tatapan tajam.

“Apa salahku?”

“Lidahmu itu pait, ‘Lil. Banget.” Juwita memberitahu. “Rasanya pengen aku silet-silet.”

“Owalah, maaf-maaf.” Cholil langsung menyadari kesalahannya.

Juwita kembali fokus ke antrian di depannya. Sesekali, ia memastikan lelaki yang dimaksud oleh Cholil masih duduk di kursinya yang sama sejak datang tadi melalui ekor matanya.

“Kamu tau kalo kamu punya banyak pilihan, kan?” Cholil bertanya.

Juwita kembali menatap Cholil dengan tatapan tajam.

“Oke..oke.. aku cuma mastiin aja.” Cholil memberitahu. “Soalnya, aku ga ngeliat apapun yang spesial dari dia. Ga ada satupun.”

Juwita mencoba tetap tenang. Ia menahan keinginannya untuk mencerca Cholil.

“Masih banyak orang lain yang spesial, punya kelebihan dan sesuatu yang bisa dibanggakan ketimbang dia. Aku heran sendiri kenapa kamu dulu bisa ketemu dia dan langsung jatuh hati begitu.” Cholil melanjutkan. “He’s not special. Dia bahkan ga bisa ngurus dirinya sendiri untuk dapet perhatian orang lain, selain kamu tentunya.”

“JUSTRU ITU!” Juwita mendadak berteriak sambil berbalik kea rah Cholil yang terkejut. “Dia memang ga spesial, dia ga bisa ngurus dirinya sendiri, karena dia terlalu sibuk untuk ngurusin orang lain dan ngebuat orang lain jadi spesial. Orang seperti aku!”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *