Short Story #289: Hak

“Ada baiknya kita kelarin semua secepet mungkin.” Gita menganjurkan sambil menyodorkan selembar kertas di atas meja.

Hans melihat sekilas, lalu kembali membuang pandangan ke arah luar jendela. “Aku ga mau.”

“Udah terlalu banyak waktu terbuang, Hans.” Gita sedikit mendesak.

“Biar saja, itu kan waktumu. Aku sih, punya banyak waktu.”

Gita menarik napas. Hampir saja ia kehilangan kesabaran sehingga berteriak dan membentak-bentak lagi, tapi ia sadar kali ini ia sadar tengah berada di tengah-tengah kedai kopi besar. Sebuah tempat yang sengaja ia pilih sendiri.

“Biar resmi, Hans. Ga gantung mulu.”

“Buatku ga ada yang gantung.”

“Kalo gitu biar clear semuanya.” Gita membujuk.

Hans menoleh dengan pandangan tajam. Gita yang semula mencondongkan badannya ke arah Hans, kembali menegakkan badannya.

“Kurang clear apalagi? Udah jelas-jelas aku ga pengen ini terjadi.” Hans bersikeras. “Aku. Cuma. Mau. Kamu. Pulang. Sama. Aku.”

Gita berpikir sejenak. “Oke, nanti aku pulang sama kamu.”

Hans tak menyangka Gita akan secepat itu merespon. “Bagusla-“

“Tapi kita pulang ke tempat masing-masing. Selesai.”

Hans kembali cemberut, kemudian membuang muka ke luar jendela.

“Ayolah Hans, ini kan hakku juga untuk mengejar kebahagiaanku… Could you please understand?”

Hans menarik napas. Ia kembali memandang Gita, tapi kali ini dengan pandangan yang tenang, namun dalam.

Tangannya menarik pena yang berada di saku depan kemejanya, lalu ia membubuhkan tanda tangannya ke atas kertas yang sedari tadi disodorkan.

Tepat sesaat sebelum Gita mengambil kertasnya kembali, Hans memegang dan menahan tangannya. “Kamu lupa kalo aku juga berhak bahagia, dan menurutku aku bahagia dengan ada kamu di sisiku. Tapi aku sadar, berhak bukan berarti harus ngeklaim hak itu.”

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *