Short Story #285: Lari

“Lagi ngetren banget kaya’nya ya acara lari-lari itu.” Heru berkomentar sambil meletakkan surat kabar di meja yang bergambarkan iklan promosi acara lari.

“Iya. Ada beach run lah, night run lah, macem-macem run, lah.” Joanne merespon sambil masih memainkan ponselnya.

“Sponsornya lagi pada demen kali.” Farah menambahkan santai.

“Padahal acara begituan bayar, ‘kan. Kalo mau lari doang sih, bisa gratis.” Heru berkomentar lagi.

“‘Kan dapet memorabilia. Medali sama kaos gitu.” Joanne memberitahu, masih dengan menatap ponselnya.

“Yaelah, begituan doang bikin sendiri juga bisa kali.” Heru balik berkomentar.

“Tapi ‘kan beda rasanya tau..” Joanne bereaksi. Kali ini ponselnya sudah ia simpan di meja.

“Beda karena pesertanya lebih banyak? Karena barengan gitu?”

Farah melihat kedua teman kerjanya sesaat sebelum berkomentar. “Padahal ada acara lari yang gue tau berasa banget dan udah pasti banyak pesertanya, tanpa harus ada sponsor. Tapi, ga ada memorabilia gitu sih.”

“Apaan?” Joanne dan Heru serentak.

“Lari dari kenyataan.” Farah memberitahu dengan kalem.

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *