Short Story #284: Mabuk

“Baru tau gue kalo lo minum juga.” Sharon mengomentari Nicky yang baru duduk dengan segelas bir di tangannya.

“Lah, semua orang pasti minum bukan? Kalo engga, abis makan seret dong.” Nicky menjawab dengan cepat lalu meneguk birnya.

“Maksud gue, gue kirain lo ga minum bir.” Sharon menjelaskan.

“Jangankan bir, waktu naik pesawat Singapore aja itu kapan tau, wine juga dia minum.” Felix memberitahu.

“Wew…” Sharon terkejut.

“Kenapa harus heran?” Nicky bertanya sambil melanjutkan makannya.

“Ya kan, lo imejnya alim, lurus-lurus aja, ga main ini-itu, trus ga taunya minum alkohol juga.” Sharon memberitahu, sambil sedikit mencondongkan badannya. Ia khawatir suaranya tak terdengar, karena resto tempat mereka makan malam ini mulai mengubah pilihan musiknya sejalan waktu yang semakin larut.

“Gue minum bir dan wine, bukan alkohol.”

“Ya sama aja.” Sharon membalas. “Gue kirain lo ga minum karena itu haram buat lo.”

“Kalo buat dia sih, yang memabukkan baru haram.” Felix menyambar yang langsung disetujui Nicky.

“Maksudnya?”

“Sepanjang gue ga mabok, ya masih gapapa.” Nicky menjelaskan.

Sharon diam, coba mencerna.

“Makanya sampe sekarang masih jomblo nih dia, soalnya kan cinta itu memabukkan. Dan jadinya itu haram.” celetuk Felix yang langsung mengundang tawa.

 

NB: Cerita pendek ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan atau menyerang agama, komunitas, atau ajaran keyakinan tertentu.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *