Short Story #278: Rekanan

“Kamu yakin mau lepas status ini?” Aldi bertanya pada Sarah, rekanan bisnis sekaligus juga teman lama sejak kuliah.

“Iya. Share aku diduitin aja, lah.” Sarah menjawab yakin sambil melihat ke arah Aldi yang kembali melihat ke draft perjanjian jual-beli saham bisnis.

“Mau coba bisnis baru, ya?” Aldi bertanya penasaran.

“Well, sort of that.” Sarah menjawab singkat sambil memainkan anting-antingnya.

“Bisnis apa?” Aldi bertanya lagi, ia tak juga menandatangani perjanjian itu.

“Sign dulu, baru nanti aku kasitau.” Sarah memberi syarat.

“Kalo aku ga mau sign sebelum kamu kasitau, gimana?”

“Well, berarti kamu akan melewatkan bagian terbaik dalam hidupmu.” Sarah menjawab sambil tersenyum, lalu melihat ke arah horizon malam.

“Wah.. aku malah jadi makin penasaran.” Aldi berkomentar. “Apaan sih bisnismu yang baru nanti? Ayo, kasitau dong. Kasih petunjuk deh.. Keyword… keyword…”

“Keyword? Emangnya search engine?” Sarah kemudian tertawa lepas.

Ditertawakan oleh Sarah, Aldi sebal sekaligus kagum. Perempuan ini yang dulu berhasil meyakinkannya untuk memulai sebuah bisnis resto kecil yang di sekarang cukup laris.

“Aku mau berbisnis kepercayaan.” Sarah akhirnya memberitahu. Matanya menyorotkan sebuah isyarat misterius.

“Hmm…” Aldi berpikir. Ia hendak bertanya lagi, tapi yang ia lakukan kemudian justru membubuhkan tanda tangannya ke perjanjian. “Done.”

“Bagus. Duitnya jangan lupa ditransfer sesegera mungkin ya.”

“Ya, nanti aku kabarin Warda, finance kita.”

“Sip.”

“Nah, sekarang giliranmu ngasitau mau bisnis apaan sama aku. Siapa tau aku bisa jadi rekanan juga…”

Sarah diam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Bisa aja kamu jadi rekanan. Bahkan sebenernya aku emang ngarepin kamu jadi rekanan aku. Berhubung kamu udah nawarin duluan….”

Aldi menunggu dengan antusias sementara Sarah memberi jeda pada kalimatnya. Sengaja.

“Aku butuh rekanan untuk membentuk sebuah keluarga.” Sarah memberitahu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *