Short Story #275: Lies

“So this is it?” Emma bertanya basa-basi sambil memainkan ujung jarinya di pinggiran gelas kopi.

“Ya, sepertinya ga ada opsi yang lain.” Panji memberitahu sambil duduk tenang bersandar.

Emma coba tersenyum kecil, meski hatinya retak dan siap pecah berantakan. Kenapa dia ga coba nahan aku?

“Baiklah.” Emma akhirnya merespon. “Give me few days to take all of my things from your place.”

“Kenapa mau kamu ambil?” Panji langsung bertanya.

“Aku ga mau nanti kamu keingetan aku lagi. Kalo kita udah kelar ya, sekalian aja semua yang berkaitan diilangin.” Emma menjelaskan.

“Kenapa? Buatku itu udah jadi bagian kenangan yang ga bakal aku lupain. Sebagai bagian dari pembelajaran hidup tentang hubungan.”

“Tapi aku ga mau jadi bagian itu lagi.” Emma memberitahu.

“Kenapa?”

Emma diam sejenak. “Ya… karena aku ga mau aja. Ga masuk akal aja kalo kelak kamu berhubungan lagi sama orang lain, trus dia ngedapetin barang-barang terkait aku ada di tempatmu. Ntar dikiranya kita masih couple. Padahal…”

“Kamu ga pernah jadi pembohong yang oke.” Panji memotong.

“Maksudmu?”

“Aku tahu kalo kamu sebenernya ngarep sebaliknya.” Panji memberitahu. “Sama seperti saat kamu bilang mau udahan tadi.”

Emma diam. Ia senang sekaligus sebal.

“Sama juga seperti waktu kamu jawab baru pulang dari rumah orangtuamu, padahal kamu pulang dari rumah cowok lain.”

“Kita masih mau bahas itu?” sergah Emma.

“Nope. Aku cuma mau kamu tahu, kalo aku bisa tahu kamu bohong apa engga. Dan karena itu, kalo sama aku ngomong jujur apa adanya aja, lah.”

“Emang kamu ga pernah bohong sama sekali?” Emma bertanya.

“Engga.”

“Ga pernah sekalipun? Bahkan white lies?”

“Nope. I speak only the truth, or at least not lying.” Panji memberitahu. “Because lying only lead to another lies.”

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *