Short Story #274: Standard

“Ga capek single terus?” Wanda bertanya pada sahabat lamanya, Cathy yang tengah menemaninya di coffee shop.

“Single-nya ga capek, nyari dan nunggu orang yang tepatnya yang capek.” Cathy merespon sambil kemudian menyeruput kopinya.

“Lah, emang yang selama ini datang dan pergi, ga ada yang tepat?” Wanda bertanya lagi.

“Kalo ada yang tepat, ga bakalan datang dan pergi. Paling datang sekali, trus ga pergi lagi.” jawab Cathy. “Atau mungkin akunya sekalian dibawa pergi.”

“Haha..” Wanda tertawa yang kemudian diikuti Cathy.

“Tapi beneran lho Wan, aku capek. Rasanya pengen jadi putri aja gitu, didatengin banyak pangeran buat jemput trus live happily ever after.”

“Happily ever after only exists in fairy tales.” Wanda memberitahu.

“Tapi kehidupanmu keliatannya seperti itu!”

“Well… terlepas dari ga enaknya, emang keliatannya seperti itu sih.” Wanda menjawab. “But stop talking about myself. Let’s talk about you again.”

Cathy menggerak-gerakkan kepalanya sedikit seperti orang sedang pusing, lalu kemudian menahan dahinya dengan tangan.

“To be exact, aku udah cukup desperate buat dapetin cowok yang tepat.” Cathy curhat. “I’m going to be 35 in few weeks!”

“Jangan jadiin umur sebagai patokan harus dapet jodoh.” Wanda memberitahu.

“But you get your right man when you were so young! Kenapa aku ga bisa juga seperti itu?”

“Jodoh di tangan Tuhan, Cath.”

“Kalo gitu jodohku dipegangin terus sama Tuhan ya.”

“Hus! Ngawur ngomongmu.”

“Ya abis…” Cathy kembali mengeluh. “Susah bener sih ya dapetin cowok yang tepat sesuai standar.”

Wanda diam sejenak. Membiarkan Cathy menerawang sebentar ke luar jendela coffee shop.

“Maybe it’s not the people that were not met your standards. Maybe it is you whose putting your standards too high so no one could ever meet it.” Wanda memberitahu.

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *